Iklan Politik Tergoblok

•March 21, 2009 • 2 Comments

Iklan politik terakhir yang kutonton adalah iklan kritik terhadap pemerintahan incumbent presiden SBY yang membandingkan dengan pihak oposisi presiden Megawati. Sengaja kusebut presiden Megawati karena ketika Megawati hadir di Kick Andy dia mempermasalahkan protokoler penambahan sebutan “mantan” di depan kata presiden untuk menyebutkan dirinya di acara-acara resmi. Dia membandingkan dengan protokoler di luar sana (luar negeri) yang ketika mengundangnya dalam acara resmi tetap menyebutnya sebagai Mrs.President. mungkin sedikit terdengar ada ide-ide kebesaran (grandius) tapi itu hak nya, bagaimanapun juga dia pernah memimpin bangsa ini. Setidaknya aku tidak ingin tulisan ku ini dianggap mengurangi rasa hormatku padanya karena kutambahkan tambahan mantan di depan kata presiden.

Kembali ke iklan, iklan ini dimainkan oleh dua aktor/is yaitu Nunung dan Epi yang memerankan sepasang suami istri yang berbeda pilihan partainya. Epi yang berkaos ungu (identik dengan partai incumbent) intinya mengatakan kepada Nunung yang berkaos merah (identik dengan partai oposisi) akan memilih lagi partai yang berkuasa sekarang karena alasan telah menurunkan harga BBM sebanyak 3 kali.

Nunung dengan cuek sembari menyetrika pakian mengatakan, “enakan mana hayo, dulu di jaman bu Mega BBM seharga 2000 rupiah atau sekarang yang harganya 4500 rupiah”. Dikatakan berulang sebanyak 3 kali dengan model rewind persis gaya iklan salah satu caleg yang menyiarkan penurunan BBM yang diulang sebanyak 3 kali pula, sepertinya impas nyawa dibayar nyawa mungkin pepatah yang tepat untuk menggambarkannya.

Iklan diakhiri dengan Epi yang mengganti kaosnya sehingga serupa dengan warna kaos Nunung istrinya.

Komunikasi iklan seperti ini memang khas ciptaan partai oposisi sekarang. Bahasa yang lugas dan terkesan melecehkan selalu dihadirkan untuk mengkritik pemerintahan yang berkuasa. Belum lagi kalau sehabis menonton debat elit politik lebih seru lagi. Salah satu elit yang bahasanya jauh dari beradab dalam mengomentari kinerja pemerintah adalah Effendi Simbolon. Teman-teman bisa lihat sendiri bagaimana dia di setiap kesempatan mengeluarkan komentar-komentar pedas, sinis, dan, bernada merendahkan. Padahal partainya pun pernah berjaya di pemilu 1999 lalu dan menempatkan ketua umumnya sebagai Wapres terpilih dan selanjutnya sempat menjadi Presiden selama kurang lebih 3 tahun. Kita menikmati sendiri bagaimana kinerjanya bukan.

Ups, sebelum menutup tulisan ini aku ingin menegaskan aku bukanlah simpatisan salah satu dari kedua partai politik yang sedang adu argumen di atas. Aku seorang warga negara yang bebas dan netral yang merasa tidak pada tempatnya perang urat itu digelontorkan mengingat sebagian besar kapasitas penduduk negeri ini yang sangat mencerna segala sesuatunya dengan bulat-bulat.

Jadi intinya, tanggapan terhadap iklan tersebut menurutku harus dijawab secara bodoh pula. Jadi berimbang, sesuatu yang bodoh akan menjawab sesuatu yang lebih bodoh sebelumnya. Jawabanku adalah, “lebih mending jaman Pak Harto to yo, BBM Cuma 700 rupiah….”.

Seven Ineffective Habits of Jomblo

•March 21, 2009 • Leave a Comment

Tulisan ini kudapat dari milis. jadi ga boleh ada yang tersinggung ya…

cuma buat fun aja…enjoy.

=================================================

Satu: Negatif thinking.

Misalnya, kalau pas lagi jalan sendiri, lalu ada yang tanya (teman kerja atau teman sekampus lain jurusan), “Koq sendiri?” Langsung deh reaksinya seperti ini: “Sudah tahu sendiri, pakai tanya-tanya.

Mentang-mentang gua jomblo. Ngenyek, ya.”

Atau, suatu kali ngelihat ada orang lain yang ngelihatin: “Kenapa sih lihat-lihat?! Anehnya ya, karena gua jomblo. Dasar, tamblo (tampang bloon) luh.”

Padahal, “Koq sendiri?” itu kan pertanyaan standar orang yang pengen tanya tapi nggak tahu mau tanya apa. Just basa-basi. Nggak ada maksud apa-apa. Malah kalau tanyanya “Koq berdua?” atau “Sama siapa?” jadi aneh bin konyol. Lha, sudah jelas sendiri pakai tanya “Koq berdua?” atau “Sama siapa?” segala.

Dan orang yang ngelihatin bisa saja karena rasa-rasanya koq kenal. Atau kagum sama tahi lalat di pipi kita. Dipikirnya, “Hoki bener tuh orang ada tahi lalat di pipinya. Coba kalau tahi kebo atau tahi kucing, kan jelek!” Jadi, nggak ada kait-mengkait dengan kejombloan kita.

Begitulah kalau sudah dikuasai pikiran negatif. Segala sesuatu disikapi secara negatif. Ibarat orang pakai kacamata hitam. Semua yang dilihatnya serba hitam.

Lalu bagaimana dong mengatasinya? Tidak ada cara lain, ganti kacamatanya dengan kacamata yang lebih terang. Jangan salahkan obyek yang dilihat.

Dua: Citra diri yang negatif.

“Siapalah saya ini. Tampang pas-pasan. Nggak bisa apa-apa pula. Otak belet, lha nilai kuliah saja hamper tidak pernah bergeser dari C. Dapet B tuh untung. A, wah ajaib benar anugerah-Mu deh. Mana ada yang mau sama saya. Seandainya saya jadi orang lain pun, nggak bakalan koq saya mau punya pacar kayak diri saya begini.”

Padahal gambaran kita tentang diri kita sendiri akan sangat berpengaruh terhadap pikiran, perasaan dan sikap hidup kita. Ibarat makanan bagi tubuh kita, citra diri akan sangat menentukan; apakah kita akan menjadi pribadi yang optimistis, percaya diri, punya semangat hidup. Atau sebaliknya, menjadi pribadi yang pesimistis, rendah diri, loyo alias nggak punya semangat hidup.

Tiga: Rumput di halaman rumah tetangga kelihatan lebih hijau.

“Duh, enak nian punya pacar kayak die. Kemana-mana ada yang nemenin. Ada yang perhatiin and diperhatiin. Ada shoulder to cry on. Malam minggu nggak cengo sendiri di rumah. Lonely. Bisa ngerasain dag dig dug serrr tiap nunggu doi. Kapan pun dan dimana pun ada yang selalu bisa di-call. Pokoknya asyik deh.”

Jadi nganggepnya hidup orang lain tuh lebih enak, lebih baik, lebih nikmat, lebih segalanya. Lalu kita berandai-andai; seandainya hidup kita kayak hidup die, dunia kita kayak dunia die. Seolah kita nih baru bahagia kalau kayak die. Kita jadi kurang bersyukur dengan hidup kita sendiri.

Padahal, mana ada sih orang yang hidupnya selalu senang. Seperti kata pepatah Belanda, setiap orang tuh punya salib. Siapa pun pastilah punya senang dan susahnya sendiri. Punya pacar pun nggak melulu enak koq. Kadang ada sebalnya. Kadang bisa bikin jengkel and stress juga. So, jangan heran kalau yang sudah punya pacar pun bisa mikir begini: “Duh, enak nian ngejomblo. Bebase sebebas burung di udara. Asyike seasyik ikan di laut. Nikmate senikmat udang rebus Mang Engking, Yogyakarta- apalagi sambal terasinya itu loh, uihh uenakke pol deh.” (apa coba hubungannya?! hehehe:)

Empat: Berselubung topeng.

Nggak jujur dengan diri sendiri. Nggak apa adanya.

Contoh 1 (gaya selebritis: kemayu, dengan sikap bertutur diatur): “Aku emang belum mau pacaran koq. Suer. Masih ingin sendiri.”

Yang sebenarnya: aku belum ketemu yang aku mau die mau. Adanya aku mau die nggak mau, die mau akunya nggak mau. Ada yang aku mau die mau, eh die maunya mau nabok sama aku.

Padahal apa salahnya bilang, “Aku bukannya nggak kepengen, tapi belum ketemu yang pas.” Titik. Kalau bilangnya: belum mau pacaran, masih ingin sendiri -besok atau lusa ternyata ketemu yang cocok. Nah, luh baru nyaho. Malu kan mesti ngejilat ludah kuda (kalau ludah sendiri sudah biasa:).

Contoh 2 (gaya politisi: kemaki, dengan sikap bertutur nggak teratur):

“Gue naksir die?! Idihh, amit-amit. Sorry ya, dibayar goceng pun nggak bakalan gue ambil!”

Yang sebenarnya: aku sih okelah sama die, tapi dienya cuek banget. Benci deh aku (dengan gaya genit ala Pelawak Tessi).

Padahal apa salahnya bilang, “Dienya cuek begitu, mana berani gue.” Titik. Kalau bilangnya: amit-amit, dibayar goceng pun gua gak bakalan ambil – dan ternyata die tuh ngesir sama kita, cuma karena die punya “kemaluan” gede (baca: pemalu) jadinya die pasang sikap cuek bebek. Sok cool. Nah, gimana coba kalau begitu?! Masak mau ikut-ikut si selebritis: ngejilat ludah kuda.

So, tanggalkan topeng itu. Apa adanya sajalah. Tapi ya, jangan vulgar, mengobral atau norak. Jujur dengan elegan gitulah.

Lima: Hanyut terbawa perasaan.

Nelangsa. Merasa kasihan pada diri sendiri. Seakan dengan ke-jomblo-an itu, dia menjadi orang yang paling malang di dunia. Makan jadi nggak enak (apalagi sayurnya sudah basi, kurang garam pula), tidur nggak nyenyak (AC mati nggak ada listrik, banyak nyamuk lagi). Nyanyinya pun lagu Chrisye: “Di malam yang sesunyi ini aku sendiri, tiada yang menemani…… srot, srot nyedot ingus). Akhirnya kini kusadari dia telah pergi tinggalkan diriku….. pufz, pufz (buang ingus pakai lengan baju). Nanini nananininani ninaneniii (bagian ini nggak hafal). Reff: Mengapa terjadi pada diriku, aku tak percaya kau telah tiada…. hiks, hiks (terisak). Haruskah ku pergi tinggalkan dunia….. hoahh, hoahh (nangis sejadi-jadinya).”

Selanjutnya no comment deh. Bukan apa-apa, saya takut ikut-ikut sedih, ikut-ikut nangis, ikut-ikut sedot ingus. Malah repot. Lagian, orang yang lagi terhanyut oleh aneka rupa perasaan susah dan sedih sebetulnya kan nggak butuh kata-kata; ia lebih butuh empati dan simpati.

Saya cuma mau bilang: “You’ll never walk alone, Jomblo (ngutip lagu yang biasa dinyanyiin fans kesebelasan Inggris). Kan banyak juga yang jomblo hehehe :) .”

Enam: Memaksakan kehendak.

Cara halus: “Hi, cowok, godain kita dong!” (Ekstrim: sambil melotot, satu tangan berkacak pinggang satu tangan lagi menggenggam batu siap ditimpukin).

Atau, “Hi, cewek, kita godain ya!” (Ekstrim: sambil memiting seorang nenek yang kebetulan lewat, dan menodongkan pistol ke keningnya).

Cara kasar: “Apa pun yang terjadi gua harus dapetin doi; biar gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang. Pokoknya harus dan kudu!” (ekstrim: bayar segerombolan preman untuk menculik doi, lalu dengan gaya kungfu Buce Li datang menyelamatkannya).

Atau, “Saya nggak bisa hidup tanpa doi. Sudahlah, saya mau mati saja! Mana tali, mana tali! Saya mau gantung diri!” (ekstrim: “Bunda, hidup ini kejam. Kembalikan saja aku ke dalam rahimmu!” – segede gitu, gimana masukinnya ya?!”)

Atau, “Marilah kepadaku semua yang letih, lesu dan membutuhkan kehangatan, aku akan memberikan diriku seutuhnya!” (ekstrim: ….. disensor).

Dan kalau berdoa doanya begini: “Tuhan, kalau dia jodoh saya, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodoh saya, jodohkanlah. Tapi kalau dia nggak bisa jadi jodoh saya, biarkan dia ngejomblo seumur hidup. Amin.”

Padahal segala sesuatu yang dipaksakan – apalagi soal jodoh – pasti akan lebih banyak buruknya daripada baiknya. Usaha tentunya nggak salah, punya keinginan mangga silahkan. Tapi iringilah itu dengan penyerahan diri kepada Sang Khalik: “Bukan hendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu!”

Dengan berusaha dan berserah, hidup akan terasa lebih ringan. Tuhan tahu apa yang terbaik buat diri kita. Percaya deh.

Tujuh: Sirik.

Orang Manado bilang mangiri. Alias iri dengki. Nggak senang ngelihat orang lain senang. Senangnya ngejelek-jelekin dan ngecil-ngecilin kebaikan orang lain. “Alaaa, dia sih piala bergilir. Lihat aja, bentar lagi juga dia akan pindah ke pelukan cowok laen. Gua sih amit-amit dapetin dia!”

“Eh elu tahu nggak, dia itu kan bekas pacarnya teman sodara teman gue. Nah, kata teman gue, temen gue dari sodaranya, sodaranya dari temennya yang mantan dia itu, dia pernah terlibat narkoba tuh. Pernah digerebek polisi segala. Ortunya sampai jual rumahnya untuk bebasin dia dari penjara.”

Padahal ke-sirik-an hanya akan membuat kita makin buruk di mata orang lain. Dan pasti di mata Tuhan juga. Nggak ada faedahnya. Maka, bertobatlah!

Pengurus Klup KEJORA (Kelompok Jomblo Gembira) / JOJOBA (Jomblo2 Bahagia)

Ayo Prediksi Waktu untuk Berkemihmu

•March 21, 2009 • Leave a Comment

Perjalanan pulang kemarin dari Jogja ke Denpasar selama kurang lebih 18 jam menyisakan rasa ingin tahuku tentang proses fisologis manusia untuk berkemih. Berawal dari estimasiku untuk memperkirakan berapa frekuensi maksimal aku harus mondar-mandir ke belakang (toilet) untuk berkemih aku mulai menghitung kapasitas tampung kandung kemihku, dan memperkirakan jam berapa saja atau setiap berapa jam aku perlu menggunakan toilet. Sesuatu yang sederhana yang memang hendak kurumitkan, itu saja.

Berangkat dari estimasi produksi urine (air seni) untuk orang dewasa normal perjamnya yang diterapkan di klinis yaitu 0,5-1mL/KgBB/jam aku mulai memasukkan input data berupa beratku yang untuk permudahan perhitungan kubulatkan menjadi 75Kg. Artinya perjamnya tubuhku akan menghasilkan urine sebanyak 37,5-75 mL.

Masalah berikutnya yang sangat menggangu adalah aku lupa berapa angka daya tampung kandung kemihku yang meyebabkan aktivasi reflex untuk miksi, suatu terminologi untuk berkemih. Hal ini sangat membuatku penasaran karena ini merupakan pengetahuan yang sangat basic, walaupun orang belum lumrah untuk mengetahuinya.

Dari kumpulan ebook fisiologi kedokteranku aku mendapatkan informasi bahwasannya ada kaitan antara volume urine dalam kandung kemih yang terkait dengan sensasi yang ditimbulkan, perlu digaris bawahi bahwa ini terbatas pada orang dewasa dan dalam kondisi normal saja.

Sensasi pertama kali bahwa kandung kemih mulai terasa terisi dirasakan ketika volume urine dalam kandung keih mencapai angka 100-150 mL.

Ketika volume urine yang tertampung telah mencapai kisaran 150-250 mL, maka mulai timbul keinginan untuk berkemih. Jadi ada toleransi 100cc untuk menahan hingga kondisi optimumnya.

Saat jumlah urine yang tertampung mencapai 350-400 mL, sensasi yang ditimbulkan sangat menyiksa. Saat inilah yang dimaksudkan orang-orang disekitaran sebagai sat-saat kebelet. Literature mencatat bahwa ketika proses ini terjadi, tekanan yang ditimbulkan dalam kandung kemih dapat mencapai angka 10 cmH2O.

Sensasi berupa rasa nyeri dan mulai kehilangan control untuk menahan rasa ingin berkemih dirasakan saat urine yang ditampung mencapai 700mL, yang merupakan kapasitas tampung maksimal. Literatur yang lain (Saladin, 2003) malahan menyebutkan kapasitas tampung maksimal kandung kemih hingga 800cc. Peningkatan volume urine yang ditampung tentu saja akan menambah tekanan yang dialami kandung kemih itu sendiri. Proses ini akan memicu peregangan dinding kandung kemih dan mengaktifkan reflex untuk miksi.

Jadi dengan data di atas aku bias mengestimasi setiap berapa jam aku perlu untuk mengosongkan kandung kemihku sekaligus memperhitungkan tambahan waktu yang bisa ditolerir oleh kandung kemihku utuk mencapai kondisi optimal. Perhitungan di atas tentu saja berlaku dalam kondisi normal. Oke lah ya, mau miksi dulu nih….

Daftar Pustaka

Saladin. 2003. Anatomy & Physiology: The unity of Form and Function, Third Edition, 2003. The McGraw-Hill Companies.

Tanner, GA. Chapter 24, The Regulation of Fluid and Electrolyte Balance.

Lagu di Valentine Malam

•March 19, 2009 • Leave a Comment

Nostalgia itu pun Tiba

Malam ini, pukul 11.30 saat sedang asyik membersihkan isi jeroan hardiskku. Kegiatan killing time seperti membaca-baca download-an ebook dan webpages, menata dan me-rename folder-folder, dan menyortir mp3. Hingga saat lagu ini mengalun merdu nan lirih di telingaku. Lagu dari Margareth yang kusuka bahkan sejak pertama kali kudengar.

Bukan saja karena menonjolkan kualitas vocal yang semi soul, atau karena diiringi oleh alat musik yang paling kusuka, yaitu piano (damn, I’m surely mellow inside). Melainkan karena isi dari lirik lagunya yang amat menyayat malam-malam ku dulu.

Kenanganku dibawa kembali ke awal tahun 2008. Saat itu, 6 bulan lamanya aku terpisah jauh dengan pacarku Ririn yang mendapat kesempatan mengikuti tugas belajar ke Swedia. Sungguh merupakan waktu-waktu yang memaksaku menjadi pribadi yang soliter, like I used to be.

Long Distance Relationship

Aku belum punya pengalaman untuk menjalani PJJ (Pacaran Jarak Jauh) sebelumnya. Kesempatan untuk menjalani PJJ dulu kandas karena akhirnya aku memilih untuk tidak memilih salah seorangpun di tanah kelahiranku, setidaknya untuk saat itu.

Pengalamanku tentang hubungan jarak jauh paling hanya dari curhatan teman-temanku dulu. Isinya cukup menyiksa, mulai dari kesepian, rindu yang tak terpenuhi, pengharapan menanti saat-saat bertemu, hingga kecurigaan, dan bahkan perselingkuhan dan putusnya hubungan. Yah, semua itu tergantung tipe orangnya juga, mereka sendiri yang membawa end up love story nya bakal kemana nantinya.

Its my Turn

Aku tidak merasa terbebani dengan urusan curiga-tion dan possessive, walaupun sebenarnya aku tipe laki-laki pencemburu. Hal ini lebih dikarenakan aku cukup tahu siapa Ririn, mengenal dia selama hampir 4 tahun memberiku pemahan tentang dia yang seperti apa.

Sedang dia, layaknya perempuan pada umumnya akan mengeksploitasi segala rasa yang ada dalam dirinya dan meyakinkan bahwa dia cukup precious untuk dinantikan. Curahan sayang, canda manja, ketakutan, hingga kecurigaan menjadi satu dia tumpahkan padaku sebelum kami berpisah. Like I said, they are they…

Awal Perpisahan

Pergi ke luar negeri bukanlah kegiatan rutin, setidaknya bagiu saat ini. Maka kuputuskan untuk mengantarnya pulang ke Bali dan berjanji mengantarkan hingga keberangkatannya ke Swedia nanti. Tentu saja ada harga yang harus dibayar, aku menunda ujian stase bedahku saat itu. Ujian yang akhirya kutuntaskan 10 bulan berikutnya.

Jangan bayangkan cerita romantika layaknya cerita picisan saat aku melepas keberangkatannya di bandara Ngurah Rai. Tak ada air mata, tak ada tangis, perasaan saat itu lebih seperti perasaan excited karena akhirnya salah satu dari kami berhasil mewujudkan mimpi untuk pergi ke luar negeri. Good luck, my love…

Jangan Senyum itu Lagi

Kuputuskan untuk kembali ke Jogja lebih awal dari rencana. Orang tuaku hanya menitipkan pesan agar sering-sering menghubungi mereka bila merasa sepi. Seutas senyuman aneh tersungging di sudut bibir mereka, kata mereka “De kan belum pernah ditinggal jauh sama ririn sebelumnya”.

What the….. Hello, I ain’t child anymore. Lagian, aku anak tunggal kan sebelumnya, jadi aku sudah cukup berpengalaman untuk mengarungi hidup sendiri. Lahir sendiri, mati sendiri, so…kayaknya kalo mesti sendiri hidup (sementara) ga jadi masalah buatku.

Tapi mereka Cuma tersenyum penuh arti. Dengan setengah tak terima dan dongkol kutinggalkan Bali. Kubuktikan, kalo aku bias. Lihat saja nanti.

Adjusting the Rhythm

Ada tekad dalam diriku untuk membuat semuanya berjalan lancar. Rutin berkirim kabar melalui email dan sesekali meng-sms. Menyibukkan diri dengan hobi lama atu mermbah hobi baru, ataupun sowan ke teman-teman di sela-sela waktu luangku di rotasi klinik.

Setidaknya semua berjalan lancar hingga akhir bulan pertama. Awal bulan kedua, kejenuhan mulai datang. Ternyata terjebak dalam siklus yang itu-itu saja membuatku menyadari ke-mono-an hidupku. Beragam hobi baru mulai editing gambar, downloading dan aktif di social networking, hingga belajar gitar kutekuni. Setidaknya berhasil membantuku melewati hingga awal bulan ketiga.

Solitude

Ternyata musuhku adalah kesendirian. Tidak ada orang yang secara kontinyu dan konsisten mendengar buah pikiranku membuat ruang dalam otakku menipis. Aku perlu mengeluarkannya dengan efisien. Tidak semua teman cocok dengan isi otakku yang ketika itu, bit radical. Jadilah aku mulai menulis blog sebagai curahan hati dan ide “gila” dalam kepalaku. Yah, 30% menuju knock out negh, solitude almost win.

Still, masalah lain yang menjadi penghalang hubungan jarak jauh menurut versiku adalah rasa keterasingan. Aku tidak merasa mengerti lagi pada ririn, dan berani bertaruh, dia pun tak sepenuhnya mengerti lagi padaku saat itu. Hal yang paling membuatku emosi adalah saat menyadari kenyataan aku tidak tahu apaun tentangnya hari ini. Aku tak tahu apa masalahnya, bisakah dia menyelesaikanya sendiri, dsb. Intinya, aku tidak merasa tidak familier lagi dengannya. Aku tidak bisa lagi involve dalam dunianya, begitupun dirinya padaku. Kalupun aku tahu masalahnya, tak ada satupun yang dapat kuperbuat untuk meringankan bebannya. So useless….

I’m a Monk

Sekalian saja kuputuskan untuk tidak peduli padanya. Kenyataan bahwa aku tidak mengetahui dan tidak mampu berbuat apa-apa untuknya hanyalah kian mengiris hatiku. Saat itu kuputuskan untuk melanjutkan hidupku. Dan anehnya, aku merasa muak pada setiap perempuan yang kutemui. Saat itu adalah puncak dimana aku ga tahu apapun tentang perempuan disekelilingku. Berlaku jerk dan tak acuh hingga dimusuhi teman-teman wanita sekelompokku, tidak memperdulikan sahaba-sahabat wanitaku, hingga hanya mau berbicara dengan teman laki-laki saja. Bagiku, life’s better without them.

Tentu saja, Ririn marah diperlakukan seperti itu. Hubungan kami sampai pada titik nadir, segala koneksi yang tercipta berujung pada pertengkaran. Tapi kami berkomitmen untuk menyelesaikannya nanti setelah pulang ke tanah air. Sementara, mari jalani hidup masing-masing dulu.

Lagu Itu

Di tengah kekalutan dan kemuakanku akan segala yang menyangkut wanita. Aku mendengar lagu ini. Sangat menyayat dan mewakili perasaan hatiku saat itu. Seringkali sepulang dari rotasi aku tertidur dengan memutar mp3 ini secara continues di desktop ku. Mungkin tetangga kamar kos sebelahku muak mendengarnya, but masa bodo lah.

Quite Happy Ending

Setidaknya aku berakhir melewati masa sulit itu. Berdamai dengan Ririn. Berdamai dengan semua wanita di bumi. Menjalani hidup dengan lebih baik.

Seperti pepatah, untuk segala sesuatu yang tak bisa membunuhmu, itu hanya akan kian menguatkanmu. Seperti hubunganku dengan Ririn, saat berhasil melewati titik nadir tersebut maka kualitas hubungan kami pun jauh lebih baik dari sebelumnya. Telah kutemukan lagi pendengar semua keluh kesah maupun pikiran-pikiran gilaku. Relaxing, tapi aku jadi kehilangan passion menulis blogku lagi. Pantas saja penulis besar kebanyakan orang-orang yang tak fasih dalam berhubungan dengan orang lain, hingga mereka tetap memiliki segala passion untuk mencurahkan isi kepalanya lewat tulisan-tulisan hebat mereka. Memang ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatunya.

Another Obstacle

Selesai sudah masa studi kami berdua di UGM. Sementara Ririn mengabdi di kampusnya, setidaknya 2 tahun saja katanya. Sedang aku, bulat kuputuskan untuk kembali ke kampung halamanku. Setidaknya disana aku bisa berbuat lebih dalam menggunakan kemampuanku.

Artinya, kami akan berpisah lagi. Akankah kami (khususnya aku) mengulang pahit getir hidupku di masa itu, ataukah aku bisa lebih baik dalam menjalaninya. Kita lihat saja nanti, setidaknya mp3 ini tetap kusimpan dulu, just in case.

Memaksimalkan Waktu Luangku, Bisnis ATM BNI Kujalani

•February 11, 2009 • 39 Comments

Prolog

“De, sudah 13 orang yang mentranser ke rekening BNI mu”, sahut bapak dari ujung telepon sana, pertengahan bulan januari 2009 lalu. Artinya sudah 13 dikalikan dengan 25 ribu rupiah sudah saldo yang bertambah ke rekeningku dalam jangka waktu sebulan. Cukup menggiurkan mengingat peluangnya untuk kian bertambah pun masih terbuka dengan sangat lebar.

Perkenalan dengan investasi

Mungkin benar kata dedengkot-dedengkot entrepreneur bahwasannya orang yang bisa berhasil di bidang bisnis dan keuangan hanyalah dua jenis orang saja, orang yang mengerti peluang lantas pandai memanfaatkannya serta orang yang kepepet.

Saat aku memutuskan untuk memulai bisnis ini aku bukanlah tipe yang pertama murni, malahan aku lebih cenderung kearah tipe yang kedua, orang yang kepepet. Sejauh ini aku gemar mencari tahu, membaca, dan menganalisis tentang bagaimana cara orang menambah penghasilannya. Berbagai page internet ku-download yang berisikan tentang bermacam-macam cara menghasilkan uang. Mulai dari reksadana, saham, forex, logam mulia, skema distribusi, distributor pulsa, dsb. Dengan waktu luangku kucoba mendalami dan menganilis mana yang sesuai dengan kemampuanku dari segi modal dan sumber daya manusia.

Beberapa teman yang punya minat yang sama dan bahkan mereka yang telah menggeluti salah segmen di atas kuajak bertukar pikiran, beargumen panjang lebar sebelum memastikan bentuk usaha mana yang kuambil ke depannya. Cara yang termudah tentu saja dengan masuk membaca di forum-forum yang ada di internet.

Alur siklusku pun tanpa sadar berjalan stagnan, mulai dari tertarik dengan peluang usaha yang kuanggap baru, kupelajari dan analisis, berdiskusi dengan pelaku, sampai dengan mulai lagi dari awal karena kurangnya keseriusanku mendalaminya. Skema invasiku sporadic namun minim target. Melelahkan memang.

Its time to kepepet

Menunggu yudisium dan telah menyelasaikan rotasi klikku di rumah sakit-rumah sakit maka kuputuskan untuk berlibur sejenak. Desember kemarin merupakan pulang terakhirku ke Bali dengan status sebagai mahasiswa profesi. Yang kulakukan murni berlibur tanpa mau disibukkan dengan urusan akademis untuk sementara waktu. Jadilah aku selama 3 minggu sebagai pengangguran di rumah.

Hanya beberapa hari setelah bermalas-malasan dan hibernasi, kejenuhan mulai menghinggapi. Mulai kubayangkan bahwa ini detik-detik terakhir sekuritas finansialku dari orang tua kudapatkan. Setelah lulus mulai akan kumasuki dunia dimana kalo aku tidak bekerja maka tidak sepeserpun pemasukan akan kudapatkan. Hei, sebelumnya aku juga sudah bekerja loh. Digaji oleh orang tua dan melakukan pekerjaan sebagai anak yang baik, heheheheheheheheh………….

Sejujurnya aku sangat tidak suka konsep bekerja dulu baru menghasilkan uang (active income). Aku ingin disela-sela pekerjaan “beneranku”, aku juga dapat income yang stabil juga dari sumber lain yang mandiri (passive income). Maka kebingungan pun dimulai…..aku jadi banyak berdoa. Ya, aku mengerti peluang dan terutama, aku sangat kepepet.

The answer from above

Aku ingat pepatah, bila kau berdoa kepada Tuhan minta keberanian maka tuhan akan mengirimkanmu musuh untuk ditaklukan, dan bila kau berdoa kepada Tuhan meminta kedekatan dalam keluarga maka Tuhan akan mengirimkan masalah untuk kepadamu. Inti dari pepatah itu, Tuhan tidak serta merta mengirimkan mukjizat atas doamu namun Beliau akan memberikanmu jalan untuk itu. Adanya musuh bila serius ditangani maka akan memupuk rasa keberanian dalam dirimu, bukankah itu yang kau harapkan bukan. Contoh kedekatan keluarga mungkin makin jelas kalian mengerti setelah menonton film Evan Almighty, dimana saat sang istri berdoa meminta kedekatan keluarga maka dengan rencananya berbagai masalah muncul dan endingnya bila mampu menghadapinaya maka kedekatan keluarga itu yang didapat.

Cukup dengan kata mutiara, Tuhan menjawab kegundahanku saat suatu siang aku di dalam ATM salah satu supermarket di Bali aku mengantarkan pacarku untuk mengambil uang kontan. Mataku tertuju pada tumpukan budelan kertas di meja ATM. Judulnya bisnis investasi dahsyat dari Andre Wongso. Naluri bisnisku serta merta mengambilnya tertarik untuk menganalisisnya nanti.

Singkat cerita aku, aku tiba di rumah. Kubaca dan kupahami isi bundelan itu. Kesimpulanku pada kesan pertama, ini menjanjikan. Dengan skema yang sederhana, modal yang relative sedikit, limit partisipasi sehingga tidak seperti money game pada MLM yang harus kanan-dan kiri seimbang, cocok mengisi waktu luang, peluang untuk BEP (break event point) yang cepat, kemungkinan coverage pasar, dan tingkat risiko yang minimal.

Kuputuskan untuk masuk ke step 2, memonitor ketat keberlangsungannya. Internet sebagai pilihan pertama, memang pernah ada yang memposting dengan jumlah setoran yang minim, sebesar 10 ribu rupiah. Ah, sekarang jumlah segitu malah mahal di ongkosnya. Tapi, lumayan lega karena ini bukan informasi scam semata. Dari internet juga aku googling lokasi-lokasi ATM yang ada di pulau Bali, Jogja, Klaten, dan Solo sebagai calon-calon pasarku kelak.

Setelah internet, kulanjutkan dengan memonitor ketat selama 4 hari semua ATM yang kulewati di kota denpasar. Semuanya sama, banyak bundelan dengan nama-nama yang berbeda-beda di keempat kolom. Kesimpulanku, bisnis ini sudah berjalan dan tersebar dengan baik di kota Denpasar. Mungkin sebentar lagi akan jenuh karena banyaknya pemain di Denpasar. Untunglah aku punya target invasi ke luar.

Anak baik selalu ijin pada orang tua

Apapun yang kulakukan, tidak lengkap bila tidak kutarakan pada orang rumah. Walaupun uang yang akan kupakai murni uang jajanku, namun ya tetep kudu ijin to, biar mantapz. Pertama kali kubawa bundelan ke Bapak, dibaca sebentar lalu tidak ada tanggapan. Setelah yang kedua kali, plus memaparkan pemantaunku dan fakta-fakta di atas dengan analisis SWAT (Strength-Weakness-A-T, pokoke intinya paparan plus minusnya), maka dibacanya dengan bersungguh-sungguh. So, beliau menyupport aku, oke udah cukup. Sekarang aku bagai di atas angin.

Kepada pacarku kutrakan juga, dia agak skeptis. Ga heran, beginilah cerminan hasil pendidikan kita. Tidak berani mengambil risiko dan senantiasa berharap selulus sekolah/kuliah mencari pekerjaan, tidak memikirkan untuk coba mempekerjakan orang lain (wiraswata). Agak kecewa juga sih,tapi sebagai pacar yang baik dia malah menantangku, “lakuin aja, kalo sampai BEP dapat hadiah sun dech”. Langsung semangat, bukan hanya karena hadiah sun-nya tapi juga karena ada peluang membanting nilai yang udah dipegangnya selama ini. I’ll do it, babe.

Dari pengalamanku ini dapat kusimpulkan, ketika seseorang mulai berusaha, jangan harapkan dukungan dari orang terdekat kalian. Kalian harus siap direndahkan, dihina, bahkan dipatahkan semangatnya karena mereka takut akan risiko merugi. Bangsa kita terkenal suka mencemooh kegagalan saudara sendiri dan kerap menganginlalukan keberhasilan seseorang. Bangsa kita tidak siap dengan risiko kegagalan, so maju aja karena kalian bukan satu-satunya yang mengalaminya.

Transaksi pun dimulai

Sore itu tanggal 16 desember 2008 di ATM di Jl WR Supratman (dekat PT Tohpati Poultry), aku menransfer keempat nama yang tertera disana. Merupakan pengalaman pertama karena aku belum pernah menransfer via ATM sebelumnya.

Transaksi selesai, aku ke tempat fotocopy dan langsung mengcopy rangkap 50. Setelah kulipat dua maka mulai kesebarkan ke lokasi-lokasi yang sudah kutandai dalam ingatan. Aku hanya berani menaruh 2-3 bundel per-ATM mengingat banyaknya bundelan yang sudah ada dalam ATM dan agar coverage ku luas. Prinsipku sementara “sedikit-sporadis-intense”.

Kulakukan terus selama beberapa hari. Setiap jalan-jalan kemana selalu mataku mencari logo ATM BNI. Maka ketika melihatnya aku punmasuk sekedar mengecek saldo dan tidak lupa menaruh 2-3 bundel. Sekalian jalan-jalan muter badung-bali-gianyar, sekalian pula muter peruntungan finansialku. Sebagian bundelan kititipkan di warung nyokap sebagai bacaan para pengunjung warung. Kata nyokap sih lumayan banyak yang tertarik. We’ll see….

The Most Wanted Place

Hasilku kok…

Setiap minggu kucek saldoku. Betapa bahagianya ketika mendapati penambahan saldo setiap 25 ribunya. Dalam hati selalu kuhiting, 4 lagi menuju BEP, 3 lagi menuju BEP….terus demikian. Hampir 2 minggu berlalu kok, transferan stuck ya? Mulai sedikit frustasi dibuatnya. Aku sebagai bangsa ini tidak biasa menghadapi sesuatu out of plan. Sempat aku tidak muter beberapa hari karena malas, sumpah denpasar panas banget siang hari. Damn global warming…. Dengan setengah ogah-ogahan malem-malem aku kusambi juga ke ATM nya. Untunglah walupun seret, masih ada satu dua transferan yang nongol.

Relasi oh relasi….

Siang itu hp ku dihujani sms. Isinya tips-tips supaya bisa untung minimal survive di bisnis ini. Ternyata dari upline ku, pak adhi namanya. Dia selalu menyupport dan memahami susahnya novice sepertiku di awal-awal. Kutanya kok da bisa menghubungiku, dia mengatakan dari nomor telepon dan alamat email yang tertera di bundelan yang kusebar.

Jadi ingat karena sebelumnya pacarku sempat marah-marah karena aku mencantumkan contact no hp dan email asli. Dia takut kalo ada orang yang tak bertanggung jawab do something bad to me. Ga apa jawabku, risiko…lagian aku ga puny no hp dan email palsu tuh, jawabku enteng. Dan dia makin cemberut.

Pak adhi menjelaskan dari pengalamannya, hanya orang yang mencantumkan contack person saja yang serius dengan bisnis ini. Lainnya seringkali menggebu di awal mengharapkan hasil instan dan selesai karena kecewa karena hasilnya tidak seperti yang diperkirakan. Dan dia menyarankan untuk sabar dan tekun, dua kata kunci untuk setiap bisnis. Okelah akan kucoba lebih serius lagi.

Ada satu kebanggan bila sekarang aku ditanya dapat sms dari siapa, “Relasi bisnis” jawabku.

Risiko, siapa takut

Akhir desember sebelum aku balik ke jogja setoran yang masuk kurang 2 lagi menuju BEP (modal awal 100ribu ditambah fotocopy 50 bundel), kuputuskan untuk menyuntikkan dana segar untuk fotocopy 50 bundel lagi untuk kutinggal di bali dan disebarkan lewat warung nyokap, so BEP makin jauh lagi deh sementara ini. Untuk perihal suntikan ekstra tidak kubilang siap-siap lagi, karena jenuh juga ditanggapi negative dengan orang dekatku. Hei, gimme support, wont you?

Bye Bali, Welcome Jogja

Ku sms upline ku, kucoba kembangkan di Jogja dan sekitarnya. Doa membekali 2 kata saktinya itu dan menceritakan kalo di makasar link nya udah kuat. Malah bos disana adalah seorang dokter lagi. Quite inspiring…

Di jogja mulai kusebar dan kupraktikan strategi yang sama. Biaya fotocopy kertas 60gr yang murah membuat uang 50ribu bisa menghasilkan bundelan sebanyak 75 bundel. Hal yang sangat menggembirakan untuk keberlangsungan ekspansiku kelak.

Respon masyarakat

Sejauh ini aku sudah mendapat 4 sms. Mereka menanyakan perkembangan keuntunganku. Kujawab jujur kalau yang 100 ribu awal sih sudah balik modal dan sekarang tinggal menunggu 2 transferan lagi agar total BEP. Semua dari mereka menyatakan tertarik bergabung dan kejawab, welcome to the club, bro.

Skeptis umum menganggap hal yang kujalani ini tidak halal, meskipun tidak ada seorangpun yang terang-terangan menanggapinya. Hei, aku keluar modal dan tenaga untuk ini juga. Masih lebih baik daripada menunggu di depan ATM dan menyodorkan amplop sumbangan mengatasnamanakan pembangunan masjid atau panti asuhan untuk keperluan perut sendiri. Pesanku, pelajari baik-baik dulu baru menilai benar-buruknya sesuatu, jangan terbiasa menghakimi sampul dari sesuatu.

Thanks God, I deserve to get this

Perlahan tapi pasti rekeningku bertambah. Jika awal-awal bertambah hanya satu transferan dalam 3 hari kemudian meningkat satu transferan dalam sehari maka sekarang bahkan mencapai 2-3 transferan sehari. BEP pun sudah jauh kulewati. So, janji sun pun kutuai. Happy endingnya, malahan pacarku sekarang yang menyemangati untuk tetap menyebarkan bundelan di sela-sela waktu sibukku. Oh ya, sementara ini aku sudah melakoni pekerjaan “beneranku” loh. So, doa di bulan desember sudah terkabul. Income ku dari dua sumber neh sekarang. Horeeeeeeeeeee…..

Awal-awal keuntungan yang kudapat tidak berani untuk kukonsumsi, kuambil separonya untuk memperbanyak copy-an. Jadi tetap sustain release. Sekarang untung bersihku sudah hamper 400 ribuan. Jumlah transferan pun hamper 20 orang, artinya target pertama sebentar lagi kulewati. Thx God..

Monitoring my downline

Guna merayakan keberhasilanku, ku sms upline ku dan kuceritakan keuntunganku. Dia menyemangati tuk keep up the good work, dia menyampaikan total keuntungannya sudah 12 juta, awww man. Ku- sms juga 4 nomor jogja yang tempo hari menanyaiku. Kutanyakan bagaimana kabar investasi dan pemasukannya. Semua menjawab sudah ada yang masuk namun belum optimal. Kabar baiknya adalah, bisnis mereka berjalan, so do I. Aku menyemangati mereka dan menyampaikan tips trick agar keuntungan optimal. Bukankah membantu mereka merupakan membantuku juga.

Perkembangan terakhir malahan teman kampusku Kusala menyatakan ketertarikan untuk ikut serta. Dia tertarik setelah diberikan bundelan oleh perawat klinik tempat dia bekerja. Dari latar belakang ekonominya, kusala bukanlah tipe yang kedua (kepepet) tapi lebih kearah tipe yang pertama.

Temanku lain yang sharing pengalaman adalah victor jogja, dulu dia pernah bisnis serupa di ATM BRI dengan setoran 4x@15 ribu rupiah. Sempat bersemangat namun akhirnya down karena tanggapan masyarakat yang (sok) agamis, toh akhirnya dia menuai 160an ribu, lumayan kan. Hanya saja dia sudah terlanjur kapok dan sakit hati seusai melihat brosurnya di buang di dalam tong sampah ATM. Bangkit, tor.

Akhirnya, baru kupahami isi buku “Rich Dad Poor Dad”, bahwa salah satu keuntungan dari berbisnis adalah menambah relasi. Tidak menutup kemungkinan bila aku perlu sesuatu aku bisa menyandarkan pada rekan bisnisku, begitupun sebaliknya mereka terhadapku. Lumayan punya teman kaya, ehhehehehehehe…

Intinya, sementara aku sudah jadi pemenang. BEP sudah kulewati maka tak ada rugi dalam langkahku ke depannya di bisnis ini. Pergaulan dan wawasanku bertambah. Passive income-ku pun telah terbentuk. Ternyata bisnis bukan untuk dibicarakan atau diperdebatkan, namun semata-mata untuk dijalani, dinikmati risiko dan ketidakpastiannya. Jangan serakah dan terlalu mengkhayal, motoku, hope for the best prepare for the worst. So, tidakkah kalian ingin bergabung?

Form bisa download disini

Cara Mendownload lewat ziddu bisa liat disini

Technorati : , ,
Del.icio.us : , ,
Zooomr : , ,
Flickr : , ,