Prolog
“De, sudah 13 orang yang mentranser ke rekening BNI mu”, sahut bapak dari ujung telepon sana, pertengahan bulan januari 2009 lalu. Artinya sudah 13 dikalikan dengan 25 ribu rupiah sudah saldo yang bertambah ke rekeningku dalam jangka waktu sebulan. Cukup menggiurkan mengingat peluangnya untuk kian bertambah pun masih terbuka dengan sangat lebar.
Perkenalan dengan investasi
Mungkin benar kata dedengkot-dedengkot entrepreneur bahwasannya orang yang bisa berhasil di bidang bisnis dan keuangan hanyalah dua jenis orang saja, orang yang mengerti peluang lantas pandai memanfaatkannya serta orang yang kepepet.
Saat aku memutuskan untuk memulai bisnis ini aku bukanlah tipe yang pertama murni, malahan aku lebih cenderung kearah tipe yang kedua, orang yang kepepet. Sejauh ini aku gemar mencari tahu, membaca, dan menganalisis tentang bagaimana cara orang menambah penghasilannya. Berbagai page internet ku-download yang berisikan tentang bermacam-macam cara menghasilkan uang. Mulai dari reksadana, saham, forex, logam mulia, skema distribusi, distributor pulsa, dsb. Dengan waktu luangku kucoba mendalami dan menganilis mana yang sesuai dengan kemampuanku dari segi modal dan sumber daya manusia.
Beberapa teman yang punya minat yang sama dan bahkan mereka yang telah menggeluti salah segmen di atas kuajak bertukar pikiran, beargumen panjang lebar sebelum memastikan bentuk usaha mana yang kuambil ke depannya. Cara yang termudah tentu saja dengan masuk membaca di forum-forum yang ada di internet.
Alur siklusku pun tanpa sadar berjalan stagnan, mulai dari tertarik dengan peluang usaha yang kuanggap baru, kupelajari dan analisis, berdiskusi dengan pelaku, sampai dengan mulai lagi dari awal karena kurangnya keseriusanku mendalaminya. Skema invasiku sporadic namun minim target. Melelahkan memang.
Its time to kepepet
Menunggu yudisium dan telah menyelasaikan rotasi klikku di rumah sakit-rumah sakit maka kuputuskan untuk berlibur sejenak. Desember kemarin merupakan pulang terakhirku ke Bali dengan status sebagai mahasiswa profesi. Yang kulakukan murni berlibur tanpa mau disibukkan dengan urusan akademis untuk sementara waktu. Jadilah aku selama 3 minggu sebagai pengangguran di rumah.
Hanya beberapa hari setelah bermalas-malasan dan hibernasi, kejenuhan mulai menghinggapi. Mulai kubayangkan bahwa ini detik-detik terakhir sekuritas finansialku dari orang tua kudapatkan. Setelah lulus mulai akan kumasuki dunia dimana kalo aku tidak bekerja maka tidak sepeserpun pemasukan akan kudapatkan. Hei, sebelumnya aku juga sudah bekerja loh. Digaji oleh orang tua dan melakukan pekerjaan sebagai anak yang baik, heheheheheheheheh………….
Sejujurnya aku sangat tidak suka konsep bekerja dulu baru menghasilkan uang (active income). Aku ingin disela-sela pekerjaan “beneranku”, aku juga dapat income yang stabil juga dari sumber lain yang mandiri (passive income). Maka kebingungan pun dimulai…..aku jadi banyak berdoa. Ya, aku mengerti peluang dan terutama, aku sangat kepepet.
The answer from above
Aku ingat pepatah, bila kau berdoa kepada Tuhan minta keberanian maka tuhan akan mengirimkanmu musuh untuk ditaklukan, dan bila kau berdoa kepada Tuhan meminta kedekatan dalam keluarga maka Tuhan akan mengirimkan masalah untuk kepadamu. Inti dari pepatah itu, Tuhan tidak serta merta mengirimkan mukjizat atas doamu namun Beliau akan memberikanmu jalan untuk itu. Adanya musuh bila serius ditangani maka akan memupuk rasa keberanian dalam dirimu, bukankah itu yang kau harapkan bukan. Contoh kedekatan keluarga mungkin makin jelas kalian mengerti setelah menonton film Evan Almighty, dimana saat sang istri berdoa meminta kedekatan keluarga maka dengan rencananya berbagai masalah muncul dan endingnya bila mampu menghadapinaya maka kedekatan keluarga itu yang didapat.
Cukup dengan kata mutiara, Tuhan menjawab kegundahanku saat suatu siang aku di dalam ATM salah satu supermarket di Bali aku mengantarkan pacarku untuk mengambil uang kontan. Mataku tertuju pada tumpukan budelan kertas di meja ATM. Judulnya bisnis investasi dahsyat dari Andre Wongso. Naluri bisnisku serta merta mengambilnya tertarik untuk menganalisisnya nanti.
Singkat cerita aku, aku tiba di rumah. Kubaca dan kupahami isi bundelan itu. Kesimpulanku pada kesan pertama, ini menjanjikan. Dengan skema yang sederhana, modal yang relative sedikit, limit partisipasi sehingga tidak seperti money game pada MLM yang harus kanan-dan kiri seimbang, cocok mengisi waktu luang, peluang untuk BEP (break event point) yang cepat, kemungkinan coverage pasar, dan tingkat risiko yang minimal.
Kuputuskan untuk masuk ke step 2, memonitor ketat keberlangsungannya. Internet sebagai pilihan pertama, memang pernah ada yang memposting dengan jumlah setoran yang minim, sebesar 10 ribu rupiah. Ah, sekarang jumlah segitu malah mahal di ongkosnya. Tapi, lumayan lega karena ini bukan informasi scam semata. Dari internet juga aku googling lokasi-lokasi ATM yang ada di pulau Bali, Jogja, Klaten, dan Solo sebagai calon-calon pasarku kelak.
Setelah internet, kulanjutkan dengan memonitor ketat selama 4 hari semua ATM yang kulewati di kota denpasar. Semuanya sama, banyak bundelan dengan nama-nama yang berbeda-beda di keempat kolom. Kesimpulanku, bisnis ini sudah berjalan dan tersebar dengan baik di kota Denpasar. Mungkin sebentar lagi akan jenuh karena banyaknya pemain di Denpasar. Untunglah aku punya target invasi ke luar.
Anak baik selalu ijin pada orang tua
Apapun yang kulakukan, tidak lengkap bila tidak kutarakan pada orang rumah. Walaupun uang yang akan kupakai murni uang jajanku, namun ya tetep kudu ijin to, biar mantapz. Pertama kali kubawa bundelan ke Bapak, dibaca sebentar lalu tidak ada tanggapan. Setelah yang kedua kali, plus memaparkan pemantaunku dan fakta-fakta di atas dengan analisis SWAT (Strength-Weakness-A-T, pokoke intinya paparan plus minusnya), maka dibacanya dengan bersungguh-sungguh. So, beliau menyupport aku, oke udah cukup. Sekarang aku bagai di atas angin.
Kepada pacarku kutrakan juga, dia agak skeptis. Ga heran, beginilah cerminan hasil pendidikan kita. Tidak berani mengambil risiko dan senantiasa berharap selulus sekolah/kuliah mencari pekerjaan, tidak memikirkan untuk coba mempekerjakan orang lain (wiraswata). Agak kecewa juga sih,tapi sebagai pacar yang baik dia malah menantangku, “lakuin aja, kalo sampai BEP dapat hadiah sun dech”. Langsung semangat, bukan hanya karena hadiah sun-nya tapi juga karena ada peluang membanting nilai yang udah dipegangnya selama ini. I’ll do it, babe.
Dari pengalamanku ini dapat kusimpulkan, ketika seseorang mulai berusaha, jangan harapkan dukungan dari orang terdekat kalian. Kalian harus siap direndahkan, dihina, bahkan dipatahkan semangatnya karena mereka takut akan risiko merugi. Bangsa kita terkenal suka mencemooh kegagalan saudara sendiri dan kerap menganginlalukan keberhasilan seseorang. Bangsa kita tidak siap dengan risiko kegagalan, so maju aja karena kalian bukan satu-satunya yang mengalaminya.
Transaksi pun dimulai
Sore itu tanggal 16 desember 2008 di ATM di Jl WR Supratman (dekat PT Tohpati Poultry), aku menransfer keempat nama yang tertera disana. Merupakan pengalaman pertama karena aku belum pernah menransfer via ATM sebelumnya.
Transaksi selesai, aku ke tempat fotocopy dan langsung mengcopy rangkap 50. Setelah kulipat dua maka mulai kesebarkan ke lokasi-lokasi yang sudah kutandai dalam ingatan. Aku hanya berani menaruh 2-3 bundel per-ATM mengingat banyaknya bundelan yang sudah ada dalam ATM dan agar coverage ku luas. Prinsipku sementara “sedikit-sporadis-intense”.
Kulakukan terus selama beberapa hari. Setiap jalan-jalan kemana selalu mataku mencari logo ATM BNI. Maka ketika melihatnya aku punmasuk sekedar mengecek saldo dan tidak lupa menaruh 2-3 bundel. Sekalian jalan-jalan muter badung-bali-gianyar, sekalian pula muter peruntungan finansialku. Sebagian bundelan kititipkan di warung nyokap sebagai bacaan para pengunjung warung. Kata nyokap sih lumayan banyak yang tertarik. We’ll see….

Hasilku kok…
Setiap minggu kucek saldoku. Betapa bahagianya ketika mendapati penambahan saldo setiap 25 ribunya. Dalam hati selalu kuhiting, 4 lagi menuju BEP, 3 lagi menuju BEP….terus demikian. Hampir 2 minggu berlalu kok, transferan stuck ya? Mulai sedikit frustasi dibuatnya. Aku sebagai bangsa ini tidak biasa menghadapi sesuatu out of plan. Sempat aku tidak muter beberapa hari karena malas, sumpah denpasar panas banget siang hari. Damn global warming…. Dengan setengah ogah-ogahan malem-malem aku kusambi juga ke ATM nya. Untunglah walupun seret, masih ada satu dua transferan yang nongol.
Relasi oh relasi….
Siang itu hp ku dihujani sms. Isinya tips-tips supaya bisa untung minimal survive di bisnis ini. Ternyata dari upline ku, pak adhi namanya. Dia selalu menyupport dan memahami susahnya novice sepertiku di awal-awal. Kutanya kok da bisa menghubungiku, dia mengatakan dari nomor telepon dan alamat email yang tertera di bundelan yang kusebar.
Jadi ingat karena sebelumnya pacarku sempat marah-marah karena aku mencantumkan contact no hp dan email asli. Dia takut kalo ada orang yang tak bertanggung jawab do something bad to me. Ga apa jawabku, risiko…lagian aku ga puny no hp dan email palsu tuh, jawabku enteng. Dan dia makin cemberut.
Pak adhi menjelaskan dari pengalamannya, hanya orang yang mencantumkan contack person saja yang serius dengan bisnis ini. Lainnya seringkali menggebu di awal mengharapkan hasil instan dan selesai karena kecewa karena hasilnya tidak seperti yang diperkirakan. Dan dia menyarankan untuk sabar dan tekun, dua kata kunci untuk setiap bisnis. Okelah akan kucoba lebih serius lagi.
Ada satu kebanggan bila sekarang aku ditanya dapat sms dari siapa, “Relasi bisnis” jawabku.
Risiko, siapa takut
Akhir desember sebelum aku balik ke jogja setoran yang masuk kurang 2 lagi menuju BEP (modal awal 100ribu ditambah fotocopy 50 bundel), kuputuskan untuk menyuntikkan dana segar untuk fotocopy 50 bundel lagi untuk kutinggal di bali dan disebarkan lewat warung nyokap, so BEP makin jauh lagi deh sementara ini. Untuk perihal suntikan ekstra tidak kubilang siap-siap lagi, karena jenuh juga ditanggapi negative dengan orang dekatku. Hei, gimme support, wont you?
Bye Bali, Welcome Jogja
Ku sms upline ku, kucoba kembangkan di Jogja dan sekitarnya. Doa membekali 2 kata saktinya itu dan menceritakan kalo di makasar link nya udah kuat. Malah bos disana adalah seorang dokter lagi. Quite inspiring…
Di jogja mulai kusebar dan kupraktikan strategi yang sama. Biaya fotocopy kertas 60gr yang murah membuat uang 50ribu bisa menghasilkan bundelan sebanyak 75 bundel. Hal yang sangat menggembirakan untuk keberlangsungan ekspansiku kelak.
Respon masyarakat
Sejauh ini aku sudah mendapat 4 sms. Mereka menanyakan perkembangan keuntunganku. Kujawab jujur kalau yang 100 ribu awal sih sudah balik modal dan sekarang tinggal menunggu 2 transferan lagi agar total BEP. Semua dari mereka menyatakan tertarik bergabung dan kejawab, welcome to the club, bro.
Skeptis umum menganggap hal yang kujalani ini tidak halal, meskipun tidak ada seorangpun yang terang-terangan menanggapinya. Hei, aku keluar modal dan tenaga untuk ini juga. Masih lebih baik daripada menunggu di depan ATM dan menyodorkan amplop sumbangan mengatasnamanakan pembangunan masjid atau panti asuhan untuk keperluan perut sendiri. Pesanku, pelajari baik-baik dulu baru menilai benar-buruknya sesuatu, jangan terbiasa menghakimi sampul dari sesuatu.
Thanks God, I deserve to get this
Perlahan tapi pasti rekeningku bertambah. Jika awal-awal bertambah hanya satu transferan dalam 3 hari kemudian meningkat satu transferan dalam sehari maka sekarang bahkan mencapai 2-3 transferan sehari. BEP pun sudah jauh kulewati. So, janji sun pun kutuai. Happy endingnya, malahan pacarku sekarang yang menyemangati untuk tetap menyebarkan bundelan di sela-sela waktu sibukku. Oh ya, sementara ini aku sudah melakoni pekerjaan “beneranku” loh. So, doa di bulan desember sudah terkabul. Income ku dari dua sumber neh sekarang. Horeeeeeeeeeee…..
Awal-awal keuntungan yang kudapat tidak berani untuk kukonsumsi, kuambil separonya untuk memperbanyak copy-an. Jadi tetap sustain release. Sekarang untung bersihku sudah hamper 400 ribuan. Jumlah transferan pun hamper 20 orang, artinya target pertama sebentar lagi kulewati. Thx God..
Monitoring my downline
Guna merayakan keberhasilanku, ku sms upline ku dan kuceritakan keuntunganku. Dia menyemangati tuk keep up the good work, dia menyampaikan total keuntungannya sudah 12 juta, awww man. Ku- sms juga 4 nomor jogja yang tempo hari menanyaiku. Kutanyakan bagaimana kabar investasi dan pemasukannya. Semua menjawab sudah ada yang masuk namun belum optimal. Kabar baiknya adalah, bisnis mereka berjalan, so do I. Aku menyemangati mereka dan menyampaikan tips trick agar keuntungan optimal. Bukankah membantu mereka merupakan membantuku juga.
Perkembangan terakhir malahan teman kampusku Kusala menyatakan ketertarikan untuk ikut serta. Dia tertarik setelah diberikan bundelan oleh perawat klinik tempat dia bekerja. Dari latar belakang ekonominya, kusala bukanlah tipe yang kedua (kepepet) tapi lebih kearah tipe yang pertama.
Temanku lain yang sharing pengalaman adalah victor jogja, dulu dia pernah bisnis serupa di ATM BRI dengan setoran 4x@15 ribu rupiah. Sempat bersemangat namun akhirnya down karena tanggapan masyarakat yang (sok) agamis, toh akhirnya dia menuai 160an ribu, lumayan kan. Hanya saja dia sudah terlanjur kapok dan sakit hati seusai melihat brosurnya di buang di dalam tong sampah ATM. Bangkit, tor.
Akhirnya, baru kupahami isi buku “Rich Dad Poor Dad”, bahwa salah satu keuntungan dari berbisnis adalah menambah relasi. Tidak menutup kemungkinan bila aku perlu sesuatu aku bisa menyandarkan pada rekan bisnisku, begitupun sebaliknya mereka terhadapku. Lumayan punya teman kaya, ehhehehehehehe…
Intinya, sementara aku sudah jadi pemenang. BEP sudah kulewati maka tak ada rugi dalam langkahku ke depannya di bisnis ini. Pergaulan dan wawasanku bertambah. Passive income-ku pun telah terbentuk. Ternyata bisnis bukan untuk dibicarakan atau diperdebatkan, namun semata-mata untuk dijalani, dinikmati risiko dan ketidakpastiannya. Jangan serakah dan terlalu mengkhayal, motoku, hope for the best prepare for the worst. So, tidakkah kalian ingin bergabung?
Form bisa download disini
Cara Mendownload lewat ziddu bisa liat disini
Technorati : ATM BNI, Passive income, Waktu Luang
Del.icio.us : ATM BNI, Passive income, Waktu Luang
Zooomr : ATM BNI, Passive income, Waktu Luang
Flickr : ATM BNI, Passive income, Waktu Luang
Recent Comments