Hasil Kerja Keras Selalu Bermuah Manis (Memaksimalkan Waktu Luangku, Bisnis ATM BNI Kujalani Part II)

Lama tak berkabar dalam media blog, kali ini aku akan menceritakan sedikit buah manis yang kupetik dari hasil kerja kerasku terdahulu. Belakangan ini aku sedikit sibuk menikmati buah manis tersebut, disamping tentunya kesibukan-kesibukan lainnya yang harfiah.

Buah manis itu bernama SE K660i.

Buah manis itu adalah hasil kerja keras dan ketekunanku menjalani bisnis ATM BNI ku terdahulu. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini. Dengan tambahan kumpulan uang sakuku terdahulu, dan honor praktekku di beberapa klinik maka menjelmalah menjadi sebuah HP HSDPA SE 660i.

Perang tarif dan promo operator GSM cukup menjanjikan untuk biaya operasional kebutuhan internetku. Intinya, aku butuh sebuah modem internet. Selain itu, mengingat harganya yang kompetitif (modem berbasis GSM/CDMA) maka lebih ekonomis bila aku membeli Hp saja. Jadi bila modem sudah tak kubutuhkan lagi di kemuidan hari, aku masih memilikinya dalam bentuk sebuah Hp.

Kembali ke SE 660i, Hp ini sudah lama kuincar. Bukan untuk kugunakan sebagai Hp pada umumnya (fasilitas telepon dan sms) namun terlebih akan kugunakan sebagai modem komputer agar aku bisa leluasa menjelajah dunia maya. Penjelajahan yang kerencanakan untuk menambah potensi pasive income ku di bidang lain. Jadi dari keuntungan melahirkan keuntungan baru, begitulah prinsipku.

Sebenarnya Hp ini bukanlah yang kuincar mengingat value by price-nya. Dari semua merek Hp yang menyokong fungsi sebagai modem HSDPA dari value on price-nya dimenangkan oleh Hp merek SE (Sonny Ericsson). Merek ini mengusung harga termurah untuk Hp yang telah dilengkapi teknologi HSDPA (3.5G) dibanding merek pesaingnya.

Selama 3-4 bulan kulakukan watchfull waiting, lewat internet, tabloid ponsel, pengalaman-pengalaman pribadi pengguna, hingga berbagai forum di situs sosiolita. Akhirnya kutetapkan targetku, antara SE K630 vs G502, meski aku jauh lebih condong ke K630. Dibandingkan dengan harga modem GSM, dia maksimal 400 ribu lebih mahal. Kompensasinya aku akan memiliki sebuah Hp selain modem tersebut. Hal yang tak kudapatkan jika aku membeli sebuah modem standar.

Sayangnya, saat detik-detik terakhir uangku terkumpul tragedi yang menyedihkan terjadi. Walaupun aku sudah berjalan (dalam arti sebenarnya) menyusuri separuh jalan teuku umar dan bertanya pada setiap (juga dalam arti sebenarnya) konter dan toko handphone, tapi tetap saja jawaban mereka sama, stok untuk K630 kosong. Beberapa tempat malah berspekulasi bahwa pihak SE tidak berniat melanjutkan pengembangan produk K630.

Wah, gila juga neh SE. Ada duit tapi ga ada barangnya. Terpaksa plan B dijalankan. Pilihan tinggal pada G502 vs K660i. Meskipun beda harga yang signifikan, namun G502 memiliki kelemahan yang signifikan. Tidak disertakannya cd software, kabel data merupakan alasan utama untuk menomorduakan produk ini. Tambahan, pada K660i selain dilengkapi kedua elemen tadi juga dilengkapi camera untuk video call. Ada uang ada barang memang.

Setelah menunggu lagi selama sebulan untuk memastikan tidak adanya lagi produk K630 yang keluar, maka pilihan final dijatuhkan pada K660i. Akhirnya impianku kesampaian. Jadi jerih payahku dan kesabaranku terbayar lunas. Aku bisa ngenet dari rumah sekarang.

Pengalaman dengan operator seluler

Dari awal aku memang mengincar produk indosat yang menerapkan durasi 250 menit untuk masa aktif 5 hari sebesar 5 ribu rupiah (konter pulsa 6 ribu rupiah). Jadi biaya yang dikeluarkan perjamnya hanya seribu sekian. Yah lumayanlah untuk diriku yang ternyata tidak cocok untuk menerapkan volume based, karena diriku yang boros bandwidth. Pernah ngenet selama satu setengah jam aku menghabiskan 300an MB. Jauh lebih hemat bila dibandingkan ke warnet ataupun sistem pembayaran paket volume based.

Awalnya aku membeli perdana IM3 5 ribu seharga 5 ribu rupiah plus paket GPRS 5 ribu seharga 6 ribu. Besar dong harapan akan segera berinternet ria dari rumah. Sampai di rumah kucoba untuk setting gprs nya tapi kok ga mau. Padahal im3 yang dulu ga perlu disetting udah otomatis hidupnya. Aduh, ngebetnya ditunda negh, usaha pertama GATOT.

Ku sms vera temanku, karena pacarnya sekarang bekerja di Indosat. Dia membalas, bawa aja ke galeri Indosat ntar di settingin disana deh. Wah, berati menunggu minggu depan dunk, karena ini akhir minggu. Jadilah aku mutung di weekend yang indah itu (lebay mode = on).

Singkat cerita sepulang kerja mampirlah aku di galeri indosat. Setelah konsultasi, CS nya mengatakan untuk bisa menggunakan paketnya saldo minimal haruslah sebesar 500 rupiah. Bleh, kan pas beli perdana udah 5 ribu, dan pulsanya ga pernah diapa-apain.

Ternyata ada beda antara pulsa perdana, pulsa reguler (pokok), pulsa paket, dan bonus pulsa. Wew, IM3 emang raja bingungin. Solusinya dia mendaftarkan simcard ku (dilepas dulu dan dimasukin ke suatu alat untuk aktivasi) dan menganjurkankan untuk beli pulsa reguler dulu yang paling kecil (nominal 5 ribu rupiah). CS pun memberikan selembar kertas yang baru saja di print nya berisi panduan manual untuk setting modem di rumah via durasi ataupun volume based.

Kuturuti sarannya. Akhirnya penantianku selama ini terbayar sudah. Aku bisa berinternet ria dari rumah. Bahkan sempat kutulis di wall facebook ku segala. Aksesnya pun lumayan 460kbps. Not bad dan berlanjut hingga keesokan harinya. Problemnya paling hanya sinyal HSDPA (meski di software bawaan SE hanya menjangkau sinyal 3G/UMTS) yang sering hilang timbul di kamarku.

Hari kedua masalah mulai timbul. Kecepatan akses turun jadi 115 kbps, malahan pernah di siang hari yang terik kecepatannya hanya 57 kbps. Tambahan, aku bisa browsing hanya dari jam setengah 7 pagi samapi maksimal setengah sembilan pagi. Sisanya, buka satu page pun ga kuat. Yang ada malah makan durasi aja. Anjrit (maap), apa-apaan ini.

Hingga akhirnya sempat aku ke galeri indosat, kali ini CS yang manis mengatakan kalo ada pembatasan untuk layanan GSM hanya sampai maksimal 120 kbps. Itupun hanya bisa kunikmati saat jam tak sibuk (7 pagi sampai setengah sembilan pagi). Masih dari CS, bahkan CDMA pun masih lebih ngebut, kubenarkan jawabannya karena temanku yang menggunakan starone bisa kena 460 kbps. Jadi merasa ditipu negh, tau gini mending beli Hp CDMA aja dong. Ckckckckckcckckck…..

Agaknya ini trik pasar Indosat agar jualan IM2 broom nya laku. Tapi masalahnya, walaupun harganya kompetitif, tapi layanannya hancur. Salah satu kolegaku mengatakan 3 hari dia ga bisa OL. Wah, ini sih gencar mencari pelanggan baru dan menelantarkan kawan lama. Pasar pun kini ramai-ramai beralih ke telkom flash karena dia mau “membatasi” membernya. Meskipun dulu, dia sama busuknya dengan IM2 broom sekarang. Mungkin kini aku menunggu gerakan teman-temanku yang lagi mengumpulkan 10 orang dan berencana mengajukan telkom flash untuk corporate. Ditunggu bro….

Technorati : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Zooomr : , , ,
Flickr : , , ,

~ by Putu Gede Sudira on May 5, 2009.

2 Responses to “Hasil Kerja Keras Selalu Bermuah Manis (Memaksimalkan Waktu Luangku, Bisnis ATM BNI Kujalani Part II)”

  1. sekarang kira-kira penghasilan anda di investasi bni ini berapa?bner nggak yang ada di bundel2 yang tersebar di atm2 kalau penghasilannya banyak sampai ratusan juta?

  2. sementara yang masuk 1200-1300% dari nilai (modal) yang saya keluarkan. saya belum pernah bertemu dengan yang memiliki penghasilan ratusan juta. jika kondisi ideal baru bisa tercapai, namun sulit mencari idealitas di jaman seperti ini. teman saya “hanya” memperoleh seiktar 12 jutaan. lumayanlah untuk modal yang dikeluarkan.

Leave a Reply