Bisnis adalah Solusi

Bukan berarti hanya karena bisnis tidak memberikanmu hasil sesuai yang diharapkan berarti bisnis adalah buruk. Tidak, itu hanya stigma atau labelisasi negatif yang diberikan mereka yang memutuskan menyerah di kesempatan kesekian kalinya untuk maju. Padahal satu atau dua kesempatan lagi merupakan jalan untuknya bagi berhasil.

Motivasi dan Realita Bisnis

Banyak orang yang memiliki cerita gagal dalam berbisnis. Namun ada banyak juga orang yang berhasil dalam bisnis. Mengapa kita terlalu pesimis untuk mau maju, pamanku berkata “bisnis itu Cuma dua kalau tidak untung ya rugi”. Peluangnya secara random pun 50%, jadi mengapa kita takut untuk gagal? Mengapa kita tidak berani untuk untung saja? Bahkan, dengan pengalaman, kemampuan, dan sedikit intuisi peluang keuntungan bisa kita naikkan hingga beberapa point di atas angka 50% tadi.

Motivasi yang paling kupegang adalah bila Thomas Alva Edison memutuskan untuk berhenti mencoba dikesempatan yang ke-1000 kali maka mungkin hingga saat ini kita masih dirundung kegelapan. Jawabnya enteng, aku telah tahu dan mencatat pasti 1000 jalan menuju kegagalan, maka yang ada di depanku hanyalah keberhasilan saja. Benar saja, lampu pijar yang ditemukannya pada eksperimen yang ke-1001 telah mendorong semua umat untuk bergerak menuju cahaya dan menjadi enlighted. Tidak saja secara fisik, juga secara rasionalitas.

Berkaca dari kesuksesanku meraup untung di bisnis sebelumnya lewat ATM BNI, aku mulai merambah daerah baru. Diversifikasi adalah media untuk memaksimalkan penghasilan kecil namun berlipat-lipat. Hal ini dikarenakan belum mungkin bagiku untuk fokus pada bisnis, basic knowledge di bidang medis soalnya. Jadi waktu luangku di luar medis bisa kumaksimalkan tidak hanya satu, tapi ke beberapa sumber penghasilan sekaligus. Dont put all your egg in a one basket. Setidaknya aku masih punya plan B untuk semua rencana hidupku.

Idealisme vs Kenyataan = Solusi

Idealismeku sejak di bangku kuliah dulu, sebisa mungkin tidak menyusahkan orang yang sudah kesusahan. Menarik bayaran dari orang yang sakit (fee for service) membuat tanpa sadar dokter “berharap” pasiennya datang banyak. Masih terngiang kata mantan wadekku dulu, semoga Tuhan mengampuni dosa kalian semua. Untuk itu, aku selalu berpegang untuk tidak berdooa yang macam-macam. Siapa yang kutolong memang hanyalah mereka yang butuh pertolongan saja, jadi ibadahnya lebih terasa bukan. Lagipula, aku tidak saja hanya bekerja di tempat yang menerapkan sistem fee for service, tapi juga ada sistem lainnya seperti fixed salary, dan kapitasi.

Bekerja di bidang medis seharusnya tidak membuat seseorang menjadi kaya, kalau asal berkecukupan sih masih mungkin. Bukankah kata cukup sangat personal dan tergantung pada derajat keserakahan seseorang. Intinya aku juga pingin kaya, tapi sebisa mungkin tidak dari bidang ini. Akhirnya kuputuskan untuk memulai side job lewat bisnis. Lagipula nanti saat aku berencana meneruskan jenjang pendidikan profesiku, aku tidak perlu khawatir aku tidak berpenghasilan selama itu.

Bisnis terakhir yang kucoba tekuni mulai dari ATM, freelance editing image untuk webpage, sampai bisnis pulsa. Yang masih dalam perkembangan (close observed) adalah internet marketing dan beberapa produk investasi maupun asuransi di dunia nyata. Tentu saja praktek medis jalan terus sementara itu. Kedepannya kelak aku berencana mengembangkan jaringan praktek medis maupun bisnisku. Jadi sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saatnya Promosi

Sebagai penutup tulisan ini, aku ingin mengajak teman-teman pembaca semua untuk mempelajari bisnis terakhirku. Link webpage bisnisku tersebut bisa dilihat disini. Segera akan saya ceritakan perkembangan bisnis tersebut. Setidaknya baru 2 hari menjalaninya, masih perlu waktu untuk menilainya. Sementara itu, promosi saja terus. Karena sukses adalah pilihan.

Technorati : , , , , ,
Del.icio.us : , , , , ,
Zooomr : , , , , ,
Flickr : , , , , ,

~ by Putu Gede Sudira on May 5, 2009.

Leave a Reply