Iklan Politik (jilid 2)
Sebenarnya males juga ngomongin masalah ini lagi. Takutnya penulis blog ini dianggap pembenci salah satu partai politik di Indonesia. Tapi ya, masalahnya blunder yang mereka lakukan kali ini sangat keterlaluan, malahan jika dikritisi maka blunder ini jelas menohok posisinya.
Adalah iklan partai politik PDI-P terbaru setelah iklan terakhirnya yang kebetulan menyandang prdikat tergoblok dari saya. Iklan kali ini mengikuti gaya kampanye dan narasi layaknya partai Gerindra. Persoalan yang diangkat adalah seputar BLT. Jika saja Gerindra konsisten dengan sikapnya untuk menolak BLT dengan memberikan perbandingan BLT yang digelontorkan dengan apa-apa saja yang seharusnya bisa didapat bangsa ini, untuk iklan PDI-P justru saya anggap sebagai blunder besar.
Blunder yang saya maksud adalah melunaknya sikap PDI-P yang mengklaim dirinya sebagai partai oposisi untuk menolak “segala” kebijakan yang dibuat partai yang berkuasa. Termasuk soal BLT yang dari dulu (penyaluran BLT tahap I) selalu dicerca dan dianggap mendidik mental bangsa sebagai pengemis.
Saya pun sebagai warga negara memiliki sikap untuk kasus BLT ini. Saya meyakini bahwa memberi kail jauh lebih visioner daripada memberi ikan. Bila ikan diberikan sementara untuk modal memancing ikan berikutnya mungkin niatnya terasa baik. Mudah-mudahan tidak banyak orang yang malah justru menjadi malas karena setelah diberi ikan.
Sayangnya PDI-P dalam iklan terbarunya malah mencerminkan inkonsistensi. Yang dari dahulu menolak, menghina, bahkan menggelontorkan wacana BLT sebagai money politic dari partai incumbent malah sekarang mendukung BLT. Dalam bahasa yang dititipi dan menyatakan sebagai “mengawasi penyaluran hingga diterima yang berhak”.
Eih, apa-apaan itu. Mengapa pengawasan itu tidak dikerjakan dari dua tahap BLT sebelumnya saja? Justru PDI-P sekarang malah mendompleng program yang katanya “money politic pemerintah”. Bahkan, putri kesayangan Sang Ketua umum pun turun langsung ke kantor pos di jakarta untuk memantau pelaksanaannya sembari memberi segelas air mineral untuk pengantri BLT. Salah satu stasiun TV malah mengatakan ada stiker kecil PDI-P di setiap gelas air mineral, meski reporter stasiun TV tersebut tidak menyorot stiker tersebut.
Apa karena sang putri maju menjadi caleg saat ini. Gambar-gambarnya dari tiga generasi (caleg-ibunya-kakeknya) menghiasi jalan jogja-klaten. Sehingga ini merupakan kampanye terselubung. Yang saya permasalahkan hanyalah konsistensinya saja.


Beh…, jeg makudus Bli lamun ngomongin kakene… ^_^
Jangan2 di kehidupan dulu raga politikus handal, bli.
He he…, gitu ya…, pantes saja dunia warisannya sekarang kaya gin