Buat Jurnalis: Hati-hati deh lain kali
Ada yang tersisa dari fakta sakitnya Presiden SBY saat melakukan kunjungan kerjanya ke pabrik semen Tonasa Sulawesi awal bulan silam. Entah ada unsur kesengajaan atau ketidaksengajaan di dalamnya, namun ketika berita ini di-blow up wartawan sanggup mengalihkan perhatian publik dari pertemuan politik Kalla-Megawati yang membahas koalisi Golkar dan PDI-P kedepannya. Rakyat tentu lebih concern memperhatikan pemimpin bangsanya daripada pertemuan ajang memupuk kekuasaan lewat koalisi yang berubah-ubah, karena dalam politik yang abadi hanyalah kepentingan. Bukan tidak mungkin publik melihat sosok yang teraniaya kembali dalam diri SBY yang ditinggalkan oleh Kalla wakilnya. Namun sekali lagi aku tidak ingin berspekulasi apakah sakitnya Presiden ada kaitannya dengan ranah politik. Toh, sudah ada dokter ahli kepresidenan yang menanganinya.
Sudah kewajibannya pers akan memburu hot news ini hingga menjadi top rank di setiap stasiun televisi. Berbagai investigasi dibuat lewat acara-acaranya, menyatakan presiden keracunan lah, mendapat serangan stroke lah, dsb. Pembawa acara berlaku bak dokter yang melakukan hetero-anamnesis (wawancara medis terhadap orang lain yang berhubungan dekat dengan pasien). Jawaban sempurna saya dapat dari juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng bahwa kondisi presiden stabil dan telah ditangani oleh ahlinya dan tidak ingin berspekulasi terhadap penyebabnya ataupun segala yang berkaitan medis karena bukan porsinya. Sempurna…..saya salut karena ada juga orang yang tidak mau berkomentar terhadap sesuatu yang di luar bidangnya. Malahan jika dia berkomentar maka akan menyeret topik yang dibicarakannya ke ranah politik dan ketatanegaraan karena kapasitasnya sebagai wakil pemerintah. Great job Andi.
Akhirnya setelah kembali ke Jakarta dalam kondisi yang stabil, Presiden menggelar jumpa pers. Layaknya orang yang bercerita kepada keluarganya beliau menceritakan SETIAP detail kejadian dari Sulawesi hingga tiba di Jakarta. Tujuannya jelas, memutus berbagai polemik yang beredar di masyarakat yang menyebabkan keresahan mayoritas penduduk Indonesia. Good news of course.
Namun di tengah-tengah konfrensi presiden menyinggung kinerja insan pers yang bertindak sewenang-wenang. Adalah metro-TV yang dituding tidak profesional dalam menjalankan kinerjanya ketika meliput check up medis Presiden di Jakarta di salah satu RS.
Presiden dibawa ke ruang ICU (Intensive Care Unit), Presiden dibopong oleh tim dokter, dan satu lagi saya lupa (kalau tidak salah ingat mengabarkan tentang kondisi kritisnya presiden) merupakan point-point pemberitaan Metro-TV yang digarisbawahi oleh Presiden. Beliau menjawab bahwa kondisinya stabil dan atas saran dokter kepresidenan dianjurkan untuk melakukan regular check up untuk memastikan kondisinya fit. Presiden tidak dibawa ke ruang ICU ataupun dibopong, melainkan berjalan sendiri.
Presiden mengatakan kalau hubungannya selama ini dengan pemimpin metro-TV (surya Paloh-Golkar) adalah berlangsung dengan baik, begitupun hubungan dengan stasiun tersebut. Presiden secara tersirat meminta pertanggungjawaban yang seimbang. Bila berbuat benar diberikan prestasi maka berbuat kesalahan perlu ada ganjarannya dong mungkin itu bahasa lugasnya.
Sekali lagi, awak pers berlaku semena-mena demi keuntungan rating tayangan mereka yang meningkat, yang artinya makin besarnya pemasukan lewat iklan yang diperoleh. Jika kemarin kebanyakan yang bermasalah dengan insan pers adalah artis, lewat tayangan infotainment. Bahkan salah satu artis (sepertinya Agnes Monica) berencana untuk mengadukan langsung nasibnya yang diperlakukan semena-mena oleh wartawan infotainment kepada presiden pada peringatan hari pers nasional. Eh malahan tidak berapa lama kemudian presiden sendiri yang menjadi korbannya. Salah pilih korban nih kali ini…


Leave a Reply