EKG yang Mendebarkan
Sabtu, 8 November 2008 adalah hari terakhir kelompok kami bertugas di ICCU. Satu minggu lamanya bergaul dengan orang-orang pintar dan cekatan dan mengharapkan limpahan ilmu mereka. Satu minggu lamanya mencermati garis naik turun kadang terpatah-patah di lembaran kertas EKG. Target minggu ini adalah habis membaca buku terhebat tentang EKG, ever. Sehingga tidak blank lagi ketika senior menjelaskan tentang strain, LBBB, P-mitral, P-pulmonale, Wenckebach,Sindrom WPW dan LGL. Terminologi yang hanya mendengar namanya saja belum pernah.
Final day comes, saatnya mendarmakanbaktikan ilmu EKG yang telah dipelajari terhadap diri sendiri. Siang itu, tugas jagaku dengan salah seorang teman kelompokku. Kami berutung karena mendapat tambahan jaga karena teman kelompokku yang satu lagi ikut serta sore itu, mandiri. Setelah meminta ijin kepada ibu perawat ruang ICCU kami bergantian meneliti aktivitas kelistrikan organ vital kami.
Pertama kali adalah giliran temanku, setelah tercetak hasil sadapan lead ektremitas tidak ada yang spesial, all seems normally happen with his heart. Hasil sadapan lead prekordial mulai tercetak, wait….kok elevasi segmen ST, batinku. Sisanya, aku berusaha menahan tawa agar temanku itu tidak bergerak-gerak selama penyadapan.
Elevasi (peninggian) segmen ST menunjukkan adanya jejas (perlukaan) pada sel otot jantung, hasil sadapan yang lazim ditemui pada orang dengan serangan infark miokard (bahasa awamnya : penyakit jantung koroner). Walaupun, hasil EKG ini dapat terjadi pada orang yang normal.
Setelah puas mendiagnosis temanku, sekarang gantian aku yang “dipermainkan”. Kali terakhir aku diperiksa adalah ketika masih menjadi mahasiswa, ketika itu aku dengan setengah rela menjadi sukarelawan (probandus) pemeriksaan EKG. Hasilnya, lupa….. coz instruktur kami ketika itu agak agak…….
Setelah selesai memasang 4 sadapan ektremitas aku meminta temanku untuk memasang sadapan prekordial. Hasilnya pun tercetak, ternyata yang menarik adalah ketika irama jantungku agak sedikit tidak teratur (aritmia) namun masih sinus aritmia kok dengan tingkat aritmia yang kalau tidak awas diperiksa mungkin akan luput dari perhatian.
Jadi teringat saat masa kecilku, ketika itu bapak memeriksakan aku ke spesialis jantung karena derap jantungku seperti langkah kuda. Kata dokter jantung sih tidak apa-apa dan hanya merupakan variasi dari normalnya saja. Ketika usiaku 23 tahun, akhirnya aku bisa membaca sendiri kondisi tubuhku.
Teman terakhir diperiksa, ini khusus urusan cewek maka kami menyingkir dan menunggu hasilnya saja. Setelah kuamati hasilnya aku bertanya, “kok ini ada T inverted (terbalik), masa sih kamu iskemik?”
Ssetengah tak percaya temanku itu membaca hasil EKG nya. Ternyata benar, ada T inverted yang konsisten dan simetris di sadapan prekordial V1-V3. Agak takut dia berusaha mengira-ngira masak iya jantungnya iskemia (kekurangan pasokan darah untuk nutrisi dan oksigen). “Ayo kita main ke UGD, kita konsulkan dengan residennya saja”, pintanya setengah hopeless.
Kesimpulan dari cerita ini adalah, ternyata kami bertiga memberikan gambaran yang berbeda-beda dari kasus jantung yang dapat ditegakkan dengan pemeriksaan EKG. Ketika kita telah fasih dan terbiasa membaca puluhan kali EKG pun, (seorang cardiologist konon butuh ribuan kali, koass yah lebih sedikit tidak apa-apa lah) ternyata tetap tak memberikan rasa percaya diri ketika harus membaca hasil EKG milik diri sendiri. Ada perasaan takut, parno, bahagia menjadi satu hingga mengaburkan kejernihan intepretasi seseorang. Tidak hanya aku, temanku yang merupakan jawara di angkatanku pun buktinya tetap setengah tidak percaya walaupun dia tahu pasti apa yang dibacanya. terkadang kita ingin orang lain saja yang mendiagnosis kita daripada harus diri sendiri yang mengatakan dan membuktikan jikalau diri sendiri sakit. Yup, itu manusiawi kok.


huhu,,,enak bgt nih mas bisa ekg-ekg an…kalo cewe kan maluu:P…..trus jadina km skt ga?jgn2 ada Q patologik yg menandakan OMI lg…huehehe…
Si Poe aja EKG loh. Tapi dia ama anak cewe satu lagi. Loh kan dirimu ada Tike to. Btw, mana negh oleh-olehnya. Kelaparan negh di Jogja.
Iya aku sakit, Ganteng kronis. Tapi jangan khawatir, ga nular kok…huehuehuehue…
Masalah anda adalah membaca EKG itu, tapi masalah saya adalah bagaimana memasang alat itu. Pasalnya saya semasa kuliah tidak mempelajari EKG karena yang saya pelajari adalah ibu dan anak. Akan tetapi sekrang, ketika saya bekerja, saya diharuskan bisa menoperasikan alat EKG. Ya Allah,…….di mana mesti dipasang saja saya tidak tahu. Dua hari di Instalasi Rawat Darurat menuntut saya untuk belajar. Dan cerita anda cukup menghibur saya, selaku pemula-pemula,……….semoga besok lebih baik. Amin.
tenang aja mbak, bisa karena biasa kok.
saya aja pas kuliah dulu ga pernah diajari masang anting tuk bayi.
pas praktek lapangan beberapa waktu lalu, muncul juga permintaan itu.
untung lah bisa juga.
salam kenal mbak.