Dialog Kawah Putih

Gambar di bawah ini merupakan gambar yang sangat kusukai, sejak pertama kali melihatnya bahkan. Gambar ini diambil sahabatku wawan ketika aku bertualang ke Bandung untuk pertama kalinya. Lokasi pengambilan gambar di Kawah Putih, Ciwidey, Bandung Selatan.

Dialog antara Tuhan dengan Ciptaannya.JPG

Ketika itu, dengan nekat dan putus asa kami berdua berniat menyusuri kawasan Bandung selatan dalam rangka empat hari lawatanku ke Bandung. Berangkat jam tiga sore dan memperkirakan sampai tujuan jam empat. EEET….OOOT we’re wrong, sampai pintu tiket saja sudah jam lima lewat lima belas sore. Dengan bodohnya kami mengeluarkan harta terakhir yang tersisa, 4 ribu dari kantongku dan 7 ribu dari kantong wawan. Padahal total HTM ketika itu di atas 22 ribua-an.

Dengan kombinasi wajah bloon, dekil, ngenes, dan malu kami menawar dan menyerahkan semua harta rupiah kami kepada a’a penjaga pintu masuk. Wawan dengan bahasa sunda yang jauh dari fasih (empat tahun kuliah di bandung cuma bisa make logat sunda doang) mencoba menawar dengan pertimbangan Kawah Putih yang buka tinggal 40 menit lagi, dan kami yang sudah datang jauh-jauh sore ini.

Entah kasihan, iba, ga ngerti yang kami bilang, atau muak, Si A’a pun pergi ke pos dan bertanya pada komandan disana. Dan, syukurlah kami diperbolehkan juga masuk dengan uang tiket yang jauh dari normal.

Pos masuk beres, kami langsung tancap gas. Sekitar 100 meter dari pintu gerbang, aku mendengar teriakan penjaga. Rada sport jantung, feelingku pak penjaga berubah pikiran dan menyuruh kita pulang. Dengan kriminil kami berdua melengos sambil menancap gas sepeda motor. Pelajaran moral : seharusnya kami berhenti dan memastikan siapa yang dipanggil. Siapa tahu malah pak penjaga jadi iba dan memberikan kita uang jajan untuk beli bensin toh. Yah, hanya Tuhan dan pak penjaga yang tahu apa maksud teriakan itu.

Ternyata, jarak dari pos masuk ke kawah putih itu jauh banget. Sempat saling bergantian lari karena motor yang tak kuat melewati tanjakan. Logikanya salah, motor aja ga kuat melewati tanjakan, apalagi kami. Akhirnya bergantianlah kami antara mengendarai motor seorang diri dan ngos-ngosan mengejar dari belakang dan berusaha untuk menaiki tanjakan buatan alam, ga pernah olahraga sih.

Suasana spooky dengan hawa dingin yang menusuk jalan napas dan tengkuk, namun kawah putih sedikit pun belum menampakkan diri. Lagian kami tiba sudah rada setengah gelap (maghrib), jadi parno aja kalo tiba-tiba lelembut ada yang muncul, hiiiiiiiiii. Di tengah jalan yang spooky dengan begonya (pengennya sih jadi ice breaker) wawan bilang, daerah ini pasti pernah dijadiin setting film horor-horor gitu. Anjrit, ga tahu apa ini ngompol udah kutahan-tahan saking takutnya.

Lima, sepuluh, limabelas, duapuluh menit terlampaui akhirnya kami sampai juga. Jam lima lewat tiga puluh lima kami sampai. Tinggal 3 mobil, itupun yang satu udah siap pergi sambil memborong dagangan penjual strawberry nya. Ga ada motor satu pun, mampus aja neh. Kami berdua sama-sama ketar-ketir karena takut, tapi ketidakwarasan sisa SMU kami ternyata masih intak. Kami pun dengan setengah takut sambil komat-kamit baca doa, memantapkan langkah turun ke Kawah Putih.

KEREN……..pemandangannya bener-bener cool. Ada nuansa mistis, menakjubkan, dan ajaib yang terekam oleh mataku. Mungkin pemandangan yang hanya bisa didapat bila maen ke kawah putih di maghrib, dan tinggal 6 pengunjung termasuk aku dan temanku. Enam orang??? Yup, 2 pasang lainnya dengan cueknya asyik masyuk. Gile, ga takut setan kali orang-orang itu.

Sesi foto-foto dimulai. Dari papan pengumuman, goa belerang, tangga turun, papan petunjuk, tong sampah, ranting pohon, 2 pasangan tadi kami abadikan dalam bentuk gambar. Aliran fotografi kami adalah konsep real time dengan skill model yang utama. Ngomong opo toh aku kie….

Terakhir, foto yang paling kusuka dari 4 hari petualanganku di bandung adalah foto di atas tadi. Kuberi judul “Dialog antara Tuhan dengan Ciptaannya”, layaknya curhat dan keluh kesah antara Tuhan dan ciptaannya, namun dalam porsi layaknya sahabat bukan layaknya penguasa yang harus ditakuti. Kesannya keren dan spiritual banget, five thumbs up deh (seandainya aku punya jempol kelima).

For you pal, better go there sometime.

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

~ by Putu Gede Sudira on November 12, 2008.

2 Responses to “Dialog Kawah Putih”

  1. Kok aku baru tau ya ada kisah kayak gitu??

  2. Beh. sudir punya blog juga lo… Koq ga ngajak2 kesananya? saya yang tinggal di bandung belum pernah liat kawah putih padahal pernah ke ciwidey

Leave a Reply