Sebagai Manusia Yang Baik: Mari Kita Bercinta

Tenang, judul tulisan ini tidak ada maksud yang provokatif kok. Malahan isinya (agak) ilmiah kok. Lengkap dengan referensinya.

Akhir bulan lalu, seorang sahabat bertanya kepadaku. Pertanyaan yang sebenarnya sudah lama aku pertanyakan namun hingga kini belum kutemukan jawaban yang memuaskan. Pertanyaan itu adalah perihal “mengapa Tuhan menciptakan manusia?”

Pertanyaan ini banyak jebakan dan mungkin juga banyak sudut pandangnya. Kaum agamawan atau mereka yang mungkin merasa mewakili Tuhan dan ajaran agamanya mungkin akan menjawab untuk berbakti kepada Tuhan, menjalankan kehendak-Nya, bla bla bla, dan bla bla bla.

Dalam pencarianku, kudapatkan jawaban, intinya (untuk mengehamat waktu dan bandwith) sebagai hiburan untuk-Nya. Seperti film yang kita tonton, beragam cerita, aneka peran dan karakter, dengan alur dan ending yang berbeda-beda pula. Mungkin Tuhan (juga) adalah penonton film yang rajin (movie lover), sepertiku. Hanya bedanya, mungkin Beliau saudah tahu jalan cerita dan akhir ceritanya terlebih dahulu.

Beberapa referensi tambahan kudapatkan. Ternyata setiap sudut pandang, akan memberi jawaban yang berbeda. Kali ini kudapatkan jawaban dari bidang biologi dan perilaku. Percayakah kalian bahwa Tuhan menciptakan kita ke dunia senyatanya untuk berkembang biak (saja)?

Tanpa mengurangi peran manusia dan kemampuan manusia di dunia setidaknya kesan itulah yang kau dapatkan seusai menonton “Naked Science: What’s Sexy” di metro TV kemarin siang. Ada banyak narasumber (ilmuan) yang memiliki lebih dari cukup, kompetensi dan kapabilitas untuk membagi pandangan mereka tentang manusia. Tentu menurut sudut pandang keilmuan mereka.

Manusia diciptakan telah dibekali dengan hasrat dan cinta. Dua hal yang berbeda secara signifikan, dimiliki, berdampingan, dan mewarnai kehidupan manusia. Hasrat merupakan naluri alami yang dimiliki tidak hanya oleh manusia, namun juga oleh binatang. Bila terminologi hasrat cukup membingungkan kalian, kurasa kata tersebut bersinonim dengan birahi. Birahi ini ada dalam diri pria maupun wanita yang dibutuhkan untuk terjadinya persetubuhan, yang merupakan core dari proses perkembangbiakan (prokreasi) atau sekedar pemenuhan akan suatu kenikmatan (rekreasi). Sebaliknya cinta dibutuhkan (hanya) untuk mempertahankan hubungan selama keturunannya belum mampu mandiri (dalam kandungan maupun masa kanak-kanak awal).

Ada banyak hal yang mempengaruhi timbulnya birahi. Secara garis besar, pria adalah mahluk visual dan sebaliknya wanita adalah mahluk memori. Pria, lebih mudah terangsang dengan rangsangan visual. Selama berabad-abad penelitian akhirnya menyimpulkan apa yang ada dalam diri wanita yang mampu membuat diri pria tertarik.

Pria mungkin akan memberikan jawaban beragam terkait hal-hal fisik, seperti mata, betis yang jenjang, wajah yang cantik, hingga (maap) payudara yang “bersemangat”. Jawaban berikutnya barulah untuk kriteria yang abstrak seperti keibuan, penyayang, pintar, dsb. Namun tanpa mereka sadari, ternyata yang paling dominan adalah rasio antara pinggang dan pinggul. Tak jarang kita memperoleh kesempatan untuk mengamati wanita dari belakang, tebakan kecil-kecilan pun dilakukan antara sesama teman pria apakah si pemilik body indah itu memiliki wajah yang cantik atau tidak. Dan seringkali hasilnya mengecewakan. Di Bali, aku dan temanku menyebutnya fenomena “aduh-adah”. “Aduh” bagusnya dari belakang, dan “adah” mending ga usah liat muka dah (piss).

Sebuah penelitian kecil membandingkan 4 gambar wanita yang sekilas terlihat sama. Responden dipilih secara acak, yang merupakan pejalan kaki di suatu jalan di luar negeri (lupa, inggris apa ya?). Kebanyakan pria memilih pinggul yang kecil diikuti dengan panggul yang besar, ternyata ini ada jawaban ilmiahnya. Wanita dengan pinggul seperti gitar spanyol memiliki kelebihan untuk memudahkan mereka selama proses kehamilan maupun persalinan. Wanita dengan panggul berbentuk gynecoid lebih diuntungkan daripada wanita berbentuk platypoid, dan semacamnya. Artinya tanpa mereka sadari, pria sepertinya telah diatur oleh gen mereka untuk memiliki target “pencarian” wanita yang cukup baik secara fisik, untuk mengandung dan melahirkan anak-anak mereka kelak.

Jadi berbagai alat kelamin sekunder mungkin hanya merupakan “bonus” bagi pria, semacam appetizer untuk hubungan selanjutnya saja. Oh ya, ingin kutambahkan bahwa tidak ada korelasi antara besarnya payudara dengan ASI yang diproduksi kelak. Malahan kalau kadar estrogen sudah turun, hanya menyisakan kulit melember yang panjang (setidaknya melember merupakan kata pembimbing klinik ku di stase Obsgyn kemaren).

Sebaliknya untuk wanita, memiliki banyak kriteria. Sebagai mahluk memory atau kenangan, mereka akan lebih merasa tertarik terhadap pria dari bagaimana mereka memikirkan pria tersebut (the way she think). Mereka mungkin akan mengingat janji pasangannya di hari ulang tahunnya 2 tahun kemarin, janji-janji yang tidak ditepati, hingga kesalahan-kesalahan yang dibuat pasangannya. Selanjutnya, mereka merasa berkewajiban untuk mengulang memikirkan hal-hal tersebut. Tidak heran wanita gemar bercengkerama (gosip) dengan kawan wanitanya mengenai pasangan maupun incaran mereka. Informasi itu akan terus diulang-ulang dalam pembicaraan mereka agar terperoleh kesan yang mendalam (autosugesti). Pria yang tidak sabaran mungkin akan mengkomplain bahwa si wanita senang mengungkit-ungkit masalah yang telah lewat, keburukan mereka, dsb. Sebaiknya pria mulai saja kursus hpnotis untuk menghipnotis pasangannya, worth to do =)

Wanita juga tertarik kepada bentuk fisik seperti otot yang kekar, kondisi yang prima, dan kesehatan yangg baik. Jawaban ilmiah untuk ini adalah merupakan cara seleksi mereka untuk mendapatkan keturunan yang baik secara fisik. Ayo mulai berolahraga, setidaknya demi anak cucu kita kelak.

Fakta aneh terkait fisik yang membuat ketertarikan, tidak hanya pada pria namun juga pada wanita, adalah kesimetrisan pada wajah pasangan. Wajah orang yang terlihat semakin simetris ternyata lebih disukai oleh pasangannya. Wanita ketika masa ovulasi (masa bertelur, 14 hari sebelum masa menstruasi) akan terlihat perbaikan signifikan pada kesimetrisan wajah mereka. Hal ini terkait melonjaknya kadar estrogen dalam diri mereka yang menyebabkan disposisi cairan di pipi, cuping hidung, dsb. Tidak heran mengapa frekuensi seks meningkat selama masa ovulasi, agar peluang kehamilan pun meningkat.Ketika kesempurnaan simetrisitas pada wajah direkayasa (program editing gambar), hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Wajah akan tampak aneh dan lucu. Alasan ilmiah nya aku lupa, tapi ku simpulkan bahwa pencarian terhadap kesempurnaan atau pada keadaan yang mendekati limit sempurna merupakan candu walaupun kesempurnaan itu tidaklah seperti yang kita harapkan. Sangat manusiawi, bukan?

Anggapan cewek matre pun ternyata ada penjelasan ilmiahnya. Pria dengan materi selain memberikan mereka status sosial yang tinggi juga memberikan mereka lingkungan yang berkecukupan untuk mebesarkan anak. Lingkungan yang baik dan jauh dari kuman sehingga kekebalan mereka pun terjaga. Jadi, tidak ada salahnya untuk menjadi matre bila itu yang menjadi motivasi mereka.

Detektor alami yang sebenarnya dimiliki prai maupun wanita adalah hidung. Penelitian terhadap siswa kelas biologi di amerika yang menciumi kaus pemain basket yang basah oleh keringat ternyata memiliki pola yang mengejutkan. Wanita yang memilih bau keringat pada baju pemain basket yang menurut mereka “segar”, ternyata memiliki pola aktivitas imunologis yang saling melengkapi dengan pemain basket tersebut. “Pola bau” yang lebih dikenal sebagai feromon memberikan daya tari tersendiri bagi pasangannya. Jadi jelas, kombinasi imunologis (kekebalan tubuh) yang maksimal ini baik bagi anak mereka kelak. Masalahnya, parfum justru “merusak” detektor alami kita itu. Cara terbaik adalah dengan mengajak inceran kita untuk olahraga dan “menikmati” bau mereka. Semoga…… ga muntah.

Wawasan yang luas yang identik dengan kecerdasan, merupakan kriteria selanjutnya yang dicari wanita dari calon pasangannya. Alasannya sederhana, karena intelegensia itu diturunkan. Makin besar peluang anak mewarisi kepinteran orang tuanya. So, pria tambahlah wawasan kalian and stay update.

Kabar baik untuk pria, ternyata walaupun otot, kemapanan, wawasan, dan kesimetrisan, ternyata kebaikan adalah hal yang paling dicari wanita dalam diri pria. Kemauan untuk berbagi, kesabaran, jiwa sosial yang tinggi, dan berbagai suri tauladan yang lain menunjukkan kesehatan jiwa dan otak pria. Hal yang sangat diidamkan wanita dari pasangannya.

Pengaruh candle light dinner atau menonton striptase di klab malam ternyata ada korelasi ilmiahnya. Penerangan yang kurang akan memaksa pupil terbuka (berdilatasi) secara maksimal. Pengaruhnya, dengan berbagai mekanisme yang rumit akan mempengaruhi area di nukleus kaudatus dan sistem limbik yang akhirnya menyebabkan munculnya ketertarikan terhadap lawan jenisnya. Fakta ini memberikan jawaban yang logis akan ketakutanku selama ini. Ketakutan untuk tidak bermain hati dan tertarik berlebihan pada wanita di malam hari. Tak heran kalau banyak yang tidak sadar dan akhirnya berujung pada one night stand, sesuatu yang akan selalu kujauhi.

Karena potensi fisik cukup signifikan untuk mendongkrak selera pasangan maka banyak orang memanipulasi diri mereka. Sebanyak lebih dari 70% wanita melakukan operasi perbaikan fisik dari implan, hingga sedot lemak, sedangkan pria mengkoreksi lebar dagu, dan implantasi otot atau fasciae mereka. Sayangnya, karena semua itu diatur oleh gen maka usaha mereka tidak akan memberikan hasil serupa bagi keturunannya. Gen jelek akan tetap diwariskan jelek pada keturunannya.

Cinta adalah hal yang abstrak. Terlalu panjang untuk dibahas mendetail. Aku akan mengungkap beberapa fakta tentang cinta secara biologis. Cinta (hanya) dibutuhkan selama wanita mengandung dan anak-anak masih kecil saja. Cinta memberikan wanita rasa aman dalam mengandung karena perhatian berlebih yang didapatkan dari pria, masih ingat bukan kalau wanita adalah mahluk memory? Karena sifatnya yang temporer ini, sering kita melihat hubungan yang gagal ketika tidak ada anak dalam perkawinan, puber kedua karena anak sudah besar dan tidak memerlukan perhatian yang intens lagi, dsb.

Namun manusia memiliki mekanisme pertahanan agar cinta tersebut timbul. Oksitosin salah satunya, merupakan hormon yang dibutuhkan untuk terbentuknya cinta atau long stand relationship. Oksitosin disekresikan dalam tubuh selama orgasme (puncak hubungan seks) dan masa laktasi. Buku Whay Women Cant Read Maps, Why Men Cant Listen” memaparkan bahwa oksitosin disekresi pada saat seseorang melihat objek lucu dan menggemaskan. kadar oksitosin wanita meningkat lebih tinggi dan signifikan ketika melihat boneka beruang yang bentuknya seperti bayi dibandingkan melihat boneka barbie yang merupakan miniatur orang dewasa. Jadi jelas, pilihannya dua antara seks atau anak untuk perkawinan yang bertahan lama. Menegaskan sekali lagi, fakta ini hanya dari sudut pandang biologi lho ya.

Bila kita berkata tentang hasrat atau birahi, 97% manusia bukan mahluk monogamous. Serupa hewan, artinya mereka “ditakdirkan” akan bersetubuh lebih dari satu pasangan dalam hidupnya. Jadi jelas, birahi sebagai respon yang “kebinatangan”, sangat dibutuhkan dalam menunjang kehidupan manusia (inisiasi). Sedangkan cinta dibutuhkan untuk memberikan lingkungan yang sesuai pada masa krusial terbentuknya manusia baru.

~ by Putu Gede Sudira on June 10, 2008.

4 Responses to “Sebagai Manusia Yang Baik: Mari Kita Bercinta”

  1. Bagus dir, langsung diterapkan….

  2. @nara
    monggo bli nara.
    manfaat dan konsekuensinya saudah saya paparkan di atas.

  3. waw, banyak banget yang suka buka halaman ini yah…..
    even ga ninggalin komen.
    tema yang “sensitif” sih.

  4. haha..setelah baca ini aku juga baru sadar…setuju….

Leave a Reply