Praktik Berbahasa?

Saya gemas dan kesal. Baru 5 tahun meninggalkan bangku sekolah dasar dan lanjutan, praktik berbahasa sudah berubah. Sebenarnya mana yang benar? Antara memenangkan vs memenangi? Antara cina (baca: ci-na) dengan china (baca: cha-i-na).
Karena ketika saya bersekolah dari tingkat paling dasar hingga lulus SMU, yang saya pelajari adalah memenangkan dan cina. Apakah selama 5 tahun terakhir praktik berbahasa itu telah berubah? Di antara sederet Mendiknas dari berbagai kabinet belakangan ini telah merumuskan praktik baru menjadikan memenangi dan china sebagai bentuk yang resmi dari new-EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)?
Mohon klarifikasinya, agar hidup saya cukup tenang. Tidak direpotkan dengan urusan sepele ini. Masalahnya, stasiun TV yang paling kentara menggunakan praktik berbahasa ini. Saya akan menyebut merek, karena hanya kedua stasiun TV itu lah referensi saya sebagai jendela dunianya. Sedangkan sisa stasiun lainnya tidak jauh berkutat dengan ajang cari bakat dengn penuh bahasa prokemnya (a.k.a. gaul), film seri laga dubing, parodi yang tidak lucu, sinetron culun yang sulit saya terima dengan akal sehat, dan banyak acara tidak mutu yang tidak akan saya sebut satu persatu.
Adalah metro TV dan TV one yang menjadi acuan saya mengulik informasi. Dan saya agak terganggu ketika mendengar pelafalan memenangi dan cha-i-na diucapkan. mohon klarifikasinya. Jikapun saya yang salah karena tidak memahami EYD yang baru (karena modal saya masih EYD 5 tahun yang lalu), maka jauh-jauh hari sebelumnya saya meminta maap.

~ by Putu Gede Sudira on May 29, 2008.

2 Responses to “Praktik Berbahasa?”

  1. Eh…kamu nulis ini terinspirasi dari omonganku ya… kayaknya bbrp hari yg lalu, waktu jaman2nya uber-thomas kmaren, aku komen soal ini di lorong DV. hehehe…

  2. To prita:
    Masalah ini sudah cukup lama menggelitikku. Awalnya mungkin aku mengira kalau masalah ini tidak cukup worth tuk diangkat, hingga akhirnya “kesibukan”ku yang lain menyita waktu dan jiwaku (hoek…).
    Hingga akhirnya kamu ngobrol ttg masalah itu. Yah, manusia emang butuh trigger.

Leave a Reply