Bisnis adalah Solusi

•May 5, 2009 • Leave a Comment

Bukan berarti hanya karena bisnis tidak memberikanmu hasil sesuai yang diharapkan berarti bisnis adalah buruk. Tidak, itu hanya stigma atau labelisasi negatif yang diberikan mereka yang memutuskan menyerah di kesempatan kesekian kalinya untuk maju. Padahal satu atau dua kesempatan lagi merupakan jalan untuknya bagi berhasil.

Motivasi dan Realita Bisnis

Banyak orang yang memiliki cerita gagal dalam berbisnis. Namun ada banyak juga orang yang berhasil dalam bisnis. Mengapa kita terlalu pesimis untuk mau maju, pamanku berkata “bisnis itu Cuma dua kalau tidak untung ya rugi”. Peluangnya secara random pun 50%, jadi mengapa kita takut untuk gagal? Mengapa kita tidak berani untuk untung saja? Bahkan, dengan pengalaman, kemampuan, dan sedikit intuisi peluang keuntungan bisa kita naikkan hingga beberapa point di atas angka 50% tadi. Continue reading ‘Bisnis adalah Solusi’

Iklan Politik (jilid 2)

•April 4, 2009 • 3 Comments

Sebenarnya males juga ngomongin masalah ini lagi. Takutnya penulis blog ini dianggap pembenci salah satu partai politik di Indonesia. Tapi ya, masalahnya blunder yang mereka lakukan kali ini sangat keterlaluan, malahan jika dikritisi maka blunder ini jelas menohok posisinya.

Adalah iklan partai politik PDI-P terbaru setelah iklan terakhirnya yang kebetulan menyandang prdikat tergoblok dari saya. Iklan kali ini mengikuti gaya kampanye dan narasi layaknya partai Gerindra. Persoalan yang diangkat adalah seputar BLT. Jika saja Gerindra konsisten dengan sikapnya untuk menolak BLT dengan memberikan perbandingan BLT yang digelontorkan dengan apa-apa saja yang seharusnya bisa didapat bangsa ini, untuk iklan PDI-P justru saya anggap sebagai blunder besar.

Blunder yang saya maksud adalah melunaknya sikap PDI-P yang mengklaim dirinya sebagai partai oposisi untuk menolak “segala” kebijakan yang dibuat partai yang berkuasa. Termasuk soal BLT yang dari dulu (penyaluran BLT tahap I) selalu dicerca dan dianggap mendidik mental bangsa sebagai pengemis. Continue reading ‘Iklan Politik (jilid 2)’

Buat Jurnalis: Hati-hati deh lain kali

•March 23, 2009 • Leave a Comment

Ada yang tersisa dari fakta sakitnya Presiden SBY saat melakukan kunjungan kerjanya ke pabrik semen Tonasa Sulawesi awal bulan silam. Entah ada unsur kesengajaan atau ketidaksengajaan di dalamnya, namun ketika berita ini di-blow up wartawan sanggup mengalihkan perhatian publik dari pertemuan politik Kalla-Megawati yang membahas koalisi Golkar dan PDI-P kedepannya. Rakyat tentu lebih concern memperhatikan pemimpin bangsanya daripada pertemuan ajang memupuk kekuasaan lewat koalisi yang berubah-ubah, karena dalam politik yang abadi hanyalah kepentingan. Bukan tidak mungkin publik melihat sosok yang teraniaya kembali dalam diri SBY yang ditinggalkan oleh Kalla wakilnya. Namun sekali lagi aku tidak ingin berspekulasi apakah sakitnya Presiden ada kaitannya dengan ranah politik. Toh, sudah ada dokter ahli kepresidenan yang menanganinya.

Sudah kewajibannya pers akan memburu hot news ini hingga menjadi top rank di setiap stasiun televisi. Berbagai investigasi dibuat lewat acara-acaranya, menyatakan presiden keracunan lah, mendapat serangan stroke lah, dsb. Pembawa acara berlaku bak dokter yang melakukan hetero-anamnesis (wawancara medis terhadap orang lain yang berhubungan dekat dengan pasien). Jawaban sempurna saya dapat dari juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng bahwa kondisi presiden stabil dan telah ditangani oleh ahlinya dan tidak ingin berspekulasi terhadap penyebabnya ataupun segala yang berkaitan medis karena bukan porsinya. Sempurna…..saya salut karena ada juga orang yang tidak mau berkomentar terhadap sesuatu yang di luar bidangnya. Malahan jika dia berkomentar maka akan menyeret topik yang dibicarakannya ke ranah politik dan ketatanegaraan karena kapasitasnya sebagai wakil pemerintah. Great job Andi. Continue reading ‘Buat Jurnalis: Hati-hati deh lain kali’

Iklan Politik Tergoblok

•March 21, 2009 • 2 Comments

Iklan politik terakhir yang kutonton adalah iklan kritik terhadap pemerintahan incumbent presiden SBY yang membandingkan dengan pihak oposisi presiden Megawati. Sengaja kusebut presiden Megawati karena ketika Megawati hadir di Kick Andy dia mempermasalahkan protokoler penambahan sebutan “mantan” di depan kata presiden untuk menyebutkan dirinya di acara-acara resmi. Dia membandingkan dengan protokoler di luar sana (luar negeri) yang ketika mengundangnya dalam acara resmi tetap menyebutnya sebagai Mrs.President. mungkin sedikit terdengar ada ide-ide kebesaran (grandius) tapi itu hak nya, bagaimanapun juga dia pernah memimpin bangsa ini. Setidaknya aku tidak ingin tulisan ku ini dianggap mengurangi rasa hormatku padanya karena kutambahkan tambahan mantan di depan kata presiden.

Kembali ke iklan, iklan ini dimainkan oleh dua aktor/is yaitu Nunung dan Epi yang memerankan sepasang suami istri yang berbeda pilihan partainya. Epi yang berkaos ungu (identik dengan partai incumbent) intinya mengatakan kepada Nunung yang berkaos merah (identik dengan partai oposisi) akan memilih lagi partai yang berkuasa sekarang karena alasan telah menurunkan harga BBM sebanyak 3 kali. Continue reading ‘Iklan Politik Tergoblok’

Seven Ineffective Habits of Jomblo

•March 21, 2009 • Leave a Comment

Tulisan ini kudapat dari milis. jadi ga boleh ada yang tersinggung ya…

cuma buat fun aja…enjoy.

=================================================

Satu: Negatif thinking.

Misalnya, kalau pas lagi jalan sendiri, lalu ada yang tanya (teman kerja atau teman sekampus lain jurusan), “Koq sendiri?” Langsung deh reaksinya seperti ini: “Sudah tahu sendiri, pakai tanya-tanya.

Mentang-mentang gua jomblo. Ngenyek, ya.”

Atau, suatu kali ngelihat ada orang lain yang ngelihatin: “Kenapa sih lihat-lihat?! Anehnya ya, karena gua jomblo. Dasar, tamblo (tampang bloon) luh.”

Padahal, “Koq sendiri?” itu kan pertanyaan standar orang yang pengen tanya tapi nggak tahu mau tanya apa. Just basa-basi. Nggak ada maksud apa-apa. Malah kalau tanyanya “Koq berdua?” atau “Sama siapa?” jadi aneh bin konyol. Lha, sudah jelas sendiri pakai tanya “Koq berdua?” atau “Sama siapa?” segala.

Dan orang yang ngelihatin bisa saja karena rasa-rasanya koq kenal. Atau kagum sama tahi lalat di pipi kita. Dipikirnya, “Hoki bener tuh orang ada tahi lalat di pipinya. Coba kalau tahi kebo atau tahi kucing, kan jelek!” Jadi, nggak ada kait-mengkait dengan kejombloan kita. Continue reading ‘Seven Ineffective Habits of Jomblo’

Ayo Prediksi Waktu untuk Berkemihmu

•March 21, 2009 • Leave a Comment

Perjalanan pulang kemarin dari Jogja ke Denpasar selama kurang lebih 18 jam menyisakan rasa ingin tahuku tentang proses fisologis manusia untuk berkemih. Berawal dari estimasiku untuk memperkirakan berapa frekuensi maksimal aku harus mondar-mandir ke belakang (toilet) untuk berkemih aku mulai menghitung kapasitas tampung kandung kemihku, dan memperkirakan jam berapa saja atau setiap berapa jam aku perlu menggunakan toilet. Sesuatu yang sederhana yang memang hendak kurumitkan, itu saja.

Berangkat dari estimasi produksi urine (air seni) untuk orang dewasa normal perjamnya yang diterapkan di klinis yaitu 0,5-1mL/KgBB/jam aku mulai memasukkan input data berupa beratku yang untuk permudahan perhitungan kubulatkan menjadi 75Kg. Artinya perjamnya tubuhku akan menghasilkan urine sebanyak 37,5-75 mL. Continue reading ‘Ayo Prediksi Waktu untuk Berkemihmu’

Lagu di Valentine Malam

•March 19, 2009 • Leave a Comment

Nostalgia itu pun Tiba

Malam ini, pukul 11.30 saat sedang asyik membersihkan isi jeroan hardiskku. Kegiatan killing time seperti membaca-baca download-an ebook dan webpages, menata dan me-rename folder-folder, dan menyortir mp3. Hingga saat lagu ini mengalun merdu nan lirih di telingaku. Lagu dari Margareth yang kusuka bahkan sejak pertama kali kudengar.

Bukan saja karena menonjolkan kualitas vocal yang semi soul, atau karena diiringi oleh alat musik yang paling kusuka, yaitu piano (damn, I’m surely mellow inside). Melainkan karena isi dari lirik lagunya yang amat menyayat malam-malam ku dulu. Continue reading ‘Lagu di Valentine Malam’

Apa Pendapatmu dengan Perjodohan?

•November 12, 2008 • Leave a Comment

Masa muda adalah masa penuh cinta. Masa dimana seseorang mulai mengenal, malu, menyukai, cemburu, terlena, kecewa, hingga patah hati terhadap suatu tingkatan cinta yang baru, cinta pada lawan jenis. Seseorang dengan bebas memilih untuk mencintai atau dicintai oleh siapapun, karena cinta hanya “sedikit” menggunakan logika. Hingga akhirnya saat menentukan pilihan, banyak orang memutuskan untuk masuk ke fase hidup selanjutnya (berumah tangga) setelah mereka yakin bahwa telah menemukan cinta sejatinya, setidaknya mendekati cinta sejatinya bagi sebagian orang =)

Ketika dirunut ke depan, sebagian besar bentuk hubungan seperti ini mengalami kegagalan di tengah jalan. Ketika rasa cinta mulai luntur, logika yang semula terlumpuhkan mulai terbangkit dan mulai tergantikan oleh ego, menutupi perasaan yang selama ini sebagai media rasa cinta. Perceraian pun sering timbul karena kegagalan pasangan dan lingkungannya untuk menetralisir keakuan masing-masing.

Bentuk hubungan selanjutnya yang walaupun sedikit “old school” dan dicap ketinggalan jaman namun ternyata membawa sedikit ekses negatif dari contoh hubungan yang pertama. Perjodohan, mungkin merupakan kata yang tabu bagi sebagian besar dari kita. Suatu terminologi yang berbau primitif dan memberi label bagimereka yang jodohnya sudah mentok dan tak mampu mndpatkan pasangan sendiri, hingga harus dibantu oleh orang lain. Sangat menghangcurkan harga diri dan pasaran.

Namun siapa sangka, ketika konsep perjodohan ini diimplemntasikan, ternyata angka kegagalannya terbilang kecil, sangat kecil malah. Sedari awal yang membina hubungan disini bukanlah dua individu semata, namun juga diikuti oleh dua keluarga sebagai supporting system-nya. Menjadikan hubungan itu memiliki bantalan dari risiko keterpurukan yang mungkin saja terjadi.

Tatkala ego dari masing-masing pasangan itu muncul, selalu ada Guardian Angel dari kedua belah pihak keluarga. Lebih sering, pasangan akan berpikir ribuan kali untuk mengambil keputusan terburuk daripada harus menghancurkan keluarga yang telah tentram selama ini.

Pendapatku telah jauh berubah, dahulu aku sedemikian merendahkan konsep perjodohan. Seiring bertambahnya usia ternyata hubungan tidak hanya murni antara dua orang semata, namun lebih ke arah dua dunia yang berbeda. Sekarang, mungkin perjodohan merupakan konsep kuno yang efektif sebagai terapi profilaksis (pencegahan) terhadap risiko hancurnya suatu rumah tangga. Jadi, mengapa katakan tidak untuk perjodohan? Hal yang paling membahagiakan adalah ketika diodohkan dengan seseorang yang selama ini kita cintai dan mencintai kita, what else?!

Technorati : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Zooomr : , , ,
Flickr : , , ,

Ayo Bersihkan Preman dan Premanisme

•November 12, 2008 • Leave a Comment

Awal bulan November ini aku browsing ke forum kaskus lewat Hp-ku. Aku tertarik membaca RSS tulisan baru yang telah diterbitkan. Judulnya “hati-hati bagi preman, debt colector, dsb”. Isinya adalah himbauan dari salah satu petinggi Polri untuk secara tegas menindak mereka yang disebutkan dalam judul di atas di area kerja lima Polda besar di tanah Jawa. Batas waktunya sebulan hingga awal Desember nanti. Tujuannya jelas, menciptakan ketentraman bagi rakyat.

Reaksi pun beragam bermunculan, sebagian sangat mendukung dan sebagian skeptis menanggapinya, untung saja tidak ada muncul reaksi kontra terhadap kebijakan tersebut. Merasa di atas angin dan menjadi sorotan, baru 6 hari sudah 1024 preman yang dijaring di lima propinsi.

Jadi jelaslah sudah sudah bahwa tidak ada yang tidak mendukung lenyapnya suatu hukum-hukum kecil ciptaan preman di dalam suatu negara hukum.

Adalah tugas polisi untuk menangani preman secara hukum, dan sudah barang tentu partisipasi aktif masyarakat dibutuhkan. Rakyatlah sebagai input dan pengawas kinerja polisi. Memberi masukan informasi dan mengawasi agar polisi tidak malah merangkap menjadi preman yang meresahkan masyarakat.

Peran media pun dibutuhkan guna secara seimbang menyorot prestasi polisi kali ini, tidak saja setiap kali mem-blow up borok polisi. Jangan sampai labelisasi buruk pada polisi malah membuat polisi baik menjadi polisi yang jahat karena mereka malas melawan labelisasi tersebut.

Semoga saja telah ada next step dari penerapan kebijakan ini. Akan diapakan preman yang jumlahnya telah mencapai ribuan itu setelah ditangkap dan disiarkan di TV-TV nasional. Aku berharap mereka tidak dijadikan pion-pion penambahan popularitas sesaat saja. Ayo semua bantu polisi.

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

Sembuhkan Aku atau Kau Kutuntut

•November 12, 2008 • Leave a Comment

Adalah hak setiap orang untuk mencari jenis dan macam pengobatan yang sesuai dengan nilai yang mereka anut dan percayai. Berbagai metode pun tersedia dari metode medis, tradisional, spiritual, agama, hingga “sedikit sesat”. Tujuan yang diharapkan tentu saja kesembuhan pasien sebagai klien si penyembuh.

Hubungan antara pasien dan penyembuh mungkin sudah berlangsung ribuan tahun, beragam dinamika pun bermunculan. Perkembangan dari rasa menghormati, tunduk, meyakini, persahabatan, hingga yang paling anyar adalah menuntut si penyembuh secara hukum.

Untuk jenis hubungan yang terakhir entah mengapa hanya terjadi pada kasus hubungan antara dokter dan pasien saja. Dokter sebagai profesional karena memiliki ikatan profesi dan kode etik sendiri sekarang rentan menjadi sumber pundi-pundi pendapatan pasiennya. Tuduhan malpraktik (malpractice) pun gampang dilayangkan, tanpa tahu ada terminologi lain seperti medical error, dsb.

Ekspektasi pasien pun berubah dari sakit yang merupakan cara Tuhan agar seseorang menyadari batasnya sebagai mahluk yang tidak kekal yakni manusia menjadi sakit sebagai sesuatu yang harus disembuhkan oleh dokter. Bila tidak, tuduhan malpraktik sudah siap menjaring dokter yang bersangkutan ke meja hijau.

Tidak bisa disalahkan bila sikap para dokter pun terkesan self-over-protective. Sekarang bila pasien menolak atau tidak menyetujui suatu tindakan medis maka lembaran inform cosent dengan judul besar bertuliskan “penolakan tindakan medis” pun siap harus ditandatangani pasien.

Dokter dengan pengetahuannya mencoba sebagai perantara kesembuhan pasien sedangkan pasien dengan penyakitnya sebagai “living book of disease” guna memperkaya pengetahuan dokter. Memang terjadi arah pergeseran hubungan antara pasien-dokter yang awalnya sebgagai dua belah pihak yang saling membantu menjadi hubungan yang didasari rasa takut akan ekses hukumnya. Suatu bentuk hubungan yang saya rasa tidak sehat, baik untuk dokter maupun pasien.

Fenomena ini anehnya tidak berimbas pada metode penyembuhan lainnya. Praktisi pengobatan alternative bahkan dengan dengan absurd nya memasang kolom-kolom yang besar tentang praktik mereka yang bahkan mengklaim mampu mengobati HIV/AIDS.

Mengapa pasien yang gagal diterapi oleh mereka tidak mengajukan tuntutan secara hukum layaknya tuntutan kepada dokter. Dalil yang digunakan pun hanya sebatas, mungkin Tuhan yang belum berkehendak atas kesembuhannya. Dalil yang jarang dikumandangkan oleh mereka yang gagal diobati oleh dokter. Apakah ada rasa malu dan tidak bangga bila memenangkan perkara di pengadilan dengan para penyembuh alternative ini dibandingkan rasa kemenangan yang didapat bila berurusan dengan dokter??? Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur untuk menilai seberapa sakitnya masyarakat kita.

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.