Bisnis Pulsa Sakuku sebagai Life Style

•May 23, 2009 • Leave a Comment

Tentu saja ada perbedaan kebutuhan antara presiden, dokter, mahasiswa, dan pemulung. Tapi marilah kita mencari kesamaan kebutuhan antara 3 kelompok orang yang mewakili kondisi ekonomi di tanah air ini. Ketiganya tentu saja membutuhkan beras, bensin, dan pulsa, even dengan range harga yang berbeda untuk masing-masing dari mereka.

Kita bisa bermain disini untuk memenuhi demand mereka. Peluang yang ada setelah dianalisis harus segera ditindaklanjuti dan di-lanjutkan secara lebih cepat dan lebih baik. Untuk beras dan bensin membutuhkan modal dan waktu yang tidak sedikit, aku rasa tidak cocok untuk dijadikan usaha sampingan. Akhirnya aku jajaki juga bisnis pulsa tersebut.

Awal Mula

Diawali dengan handphone yang kubeli dari bisnis yang lain (ceritanya disini), aku bertekad untuk menjadikannya sebagai modal usaha. Maka dimulailah browsing mulai dari internet marketing yang berebaran bagai jamur, PTC/PTS/dan berbagai program Pay to lainnya, logam mulia, investasi reksadana, trading valas, dan sebagainya.

Dengan modal enam ribu rupiah (pulsa gprs IM3 seharga 5 ribu), aku bisa reguler browsing dari kamarku dan memindai setiap peluang dan kemungkinan dibandingkan dengan waktu luangku. Larut dalam pencarian jati diri inilah baru kusadari ternyata akupun butuh biaya operasional untuk ini. Pulsa, ya aku perlu pulsa.

Tidak semua konter pulsa menjual pulsa gprs ini. Aku tinggal di batubulan, dan penjual terdekat ada di jalan ratna, mean jaraknya 6-7 km dari rumah. Sungguh merepotkan, apalagi bila sedang tanggung pulsanya abis. Belom lagi kesana, konternya sudah tutup. Klop lah sudah.

Akhirnya terjadi pergesaran keyword yang kuketik di google. Mulailah kuketik “pulsa murah” di search engine. Hasilnya, ya bejibun halaman dan tampilan yang memuat tag pulsa murah dalam situs mereka. Perjuangan pun dimulai.

Proses Pencarian

Setelah menelaah dan menyelidiki secara mendalam, kucopy setiap page mereka dan kukategorikan ke dalam subfolder-subfolder, aku berkesimpulan ternyata ada beberapa pemain besar dalam bisnis ini. Dynas*s, Vn*et, Barok*h, dan Sakuku merupakan pemain-pemain di bidang ini. Selanjutnya tinggal langkah ke-2, yaitu hubungi contact person atau baca forumnya.

Mereka menawarkan gaya hidup, menjadikan handphone kita yang selama ini sumber pengeluaran menjadi sebaliknya sebagi sumber penghasilan. Mereka menjual produk mereka yaitu pulsa, dan mengembangkan sistem keagenan sesuai dengan konsep viral marketing. Artinya, downline mencari downline selanjutnya. Secara sederhana (meskipun tidak persis) mirip seperti MLM.

Pengambilan Keputusan

Kriteria pertama kandidat sistem yang kumasuki adalah memiliki harga produk lebih rendah dari harga eceran di pasaran. Ya iyalah, masak kita bisnis tapi malah merugi. Itu namanya murni mengejar segi MLM nya saja dong kalau begitu.

Sedangkan kriteria kedua adalah biaya pendaftaran, semakin kecil modal yang dibutuhkan semakin mudah orang memutuskan untuk bergabung ke suatu jenis usaha.

Sedangkan kriteria ketiga (meskipun tidak mutlak) adalah potensi keuntungan. Hal ini didapat dari sistem hubungan antara upline-downline. Ada yang mengharuskan keseimbangan antara kaki kiri dan kanan, ada yang memiliki level multipel bahkan hingga 12 level, dsb. Yah sekali lagi, ini toh tidak mutlak.

Akhirnya kuputuskan untuk ikut Sakuku, dia memiliki harga yang di bawah harga eceran standar, biaya pendaftaran 100ribu dan sudah mendapat deposit 55rb (kasarannya, biaya mendaftar hanya 45rb), dan sistem upline-downline mereka yang hanya membagi menjadi 2 (binary) di kanan dan dikiri.

Lebih Jauh dengan Sakuku

Dengan mengetik keyword “sakuku” ke dalam google, memberikan kita banyak link ke arah site sakuku yang asli dan link ke arah site binaan sakuku (member sakuku yang sekaligus menjadikan produknya agak berbau internet marketing). Aku memilih untuk membuka site sakukupulsa.com. tampak nama rezki (lupa) dengan alamat jimbaran, Bali. Kuputuskan untuk mendaftar melalui dia, karena satu region, jadi aku berharap dia mau membantuku bila aku ada kesulitan kelak.

Akhirnya secara resmi aku memiliki link di http://www.sakukupulsa.com/?id=sudira, jadi kalian yang ingin bergabung bisa melalui link tersebut. Jadi downline ku, hehehehehehehe….

Perubahan Life Style

Perubahan mulai kurasakan, kini lebih fleksibel dalam mengatur waktu untuk surfing. Ketika jatah menitan gprs sudah mendekati limit cukup mengetik lewat sms (atau YM), maka simsalabim pulsaku sudah terisi. Aku jadi bisa membantu orang disekitarku yang membutuhkan pulsa.

Akhirnya aku mulai menjualkan pulsa, even kecil-kecilan. Dengan modal 350rb dari uang bulananku (ortu mengkonfirmasi ini adalah uang bulanan terakhir T.T), dan dengan menarik untung yang tidak besar (sengaja kupermurah rata-rata 500 rupiah dengan konter pulsa) membuat usaha sampinganku banyak peminatnya. Aku disiplin menerapkan aturan penjualan, bila aku isi sendiri pun maka tetap kubayarkan dengan harga seperti aku jual ke orang lain.

Saatnya tutup buku, setelah dihitung dengan modal 350rb saja aku bisa menjaring laba 5-6%. Apalagi bila aku menerapkan sesuai harga konter pulsa, bisa-bisa membengkak antara 10-15%. Sementara biar saja lah dulu, lebih baik mencari makan seperti ayam (sedikit tapi sering) daripada mencari makan seperti ular (banyak tapi jarang). Lagipula ini tentu saja jauh lebih menguntungkan dibandingkan bila kita menaruh uang di bank.

Hingga saat ini, dari gaji pertamaku bekerja di Bali hampir separo lebih kuputar sebagai modal. Sedangkan sedikit sisanya baru kukonsumsi. Bukankah kaya tidaknya seseorang dilihat dari berapa penghasilannya yang bisa disisihkan bukannya berapa besarnya penghasilan semata.

Obstacles

Tidak adil rasanya dalam menyampaikan produk hanya menceritakan tentang baik-baiknya saja. berikut pengalamanku terkait ketidaknyamanan yang pernah aku rasakan sejauh ini.

Suatu kali saat aku benar-benar tidak bisa pergi ke ATM untuk melakukn deposit (saat itu ada Ngaben di rumah), aku meminta bantuan sohibku Wawan untuk mentransferkan ke rekening deposit. Saat itu Wawan baru bisa mentransfer di atas jam 9 malam. Rada ketar-ketir saat itu karena yang kubaca di peraturan umum adalah transfer deposit dilakukan sebaiknya pada saat jam kerja (jam 8 pagi s/d 8 malam). Akhirnya seperti yang kuduga, deposit tak kunjung bertambah. Kuhubungi Wawan dan menanyakan apakah proses transaksi berjalan lancar, dan dia katakan sudah seperti yang seharusnya. Artinya hanya satu kemungkinan, sistem luput mendata karena di luar jam kerja.

Esoknya menunggu jam kerja, kuhubungi pihak sakuku melalui sms INFO. Kuceritakan duduk persoalannya, seketika mereka menanggapi dengan menanyakan nomor tiket dan nomor rekening pengirim. Kesigapan dalam merespon sudah memberi ketenangan tambahan dan memberikan jaminan bahwa uangku tidak akan kemana-mana.

Tak lama berselang, datang sms konfirmasi bahwa saldoku telah bertambah, dan konfirmasi dari pihak CS sakuku agar lain kali transaksi dilakukan di dalam jam yang telah disediakan. Mau bagaimana lagi, salahku kok.

Pengalaman kedua adalah saat kakakku meminta kiriman 25 ribu ke kartu XL nya. Seperti biasa, report transaksi berhasil kuterima, kutanyakan ke kakakku ternyata saldo belum bertambah. Kuminta dia untuk menunggu sebentar karena mungkin jaringan sibuk, hmmmm tidak seperti biasanya.

Sejam-dua jam berselang, mbakku mulai kaya cacing kepanasan, dia menterorku sodara-sodara. Mana pulsaku de… Lama amat de.. Aduh, uda kurestart Hp-ku dua kali, tapi belon masuk juga…. dan beberapa kalimat lain yang memiliki arti serupa. Aduh, gimana neh. Bentar mbak, aku komplain ke operator sik.

Kusampaikan persoalannya, kusertakan pula Serial Number transaksi, no tujuan, nominal, dsb. Sakuku segera menjawab, akan dicek ulang ke operator dan bila gagal akan di-refund saldonya. Akhirnya hari itu berlalu dengan setengah damai.

Keesokan harinya, mbakku sms lagi. Pulsanya belon nympe juga oi… Cerewet, ngutang aja kok. Tapi mengingat konsumen adalah raja maka segera kukomplain ulang ke INFO sakuku. Kukatakan bahwa komplainku kemaren belum ada tindak lanjutnya, aku cuma minta mereka nutuk ngirimin pulsa langsung ke nomor kakakku itu, saldo ku ga usah di-refund lah.

Tak sampai 5 menit, datang sms konfirmasi yang menyatakan transaksi ke nomor kakaku kemaren gagal, dan saldoku di-refund, di bawahnya disertakan silakan melakukan transaksi ulangan. Selanjutnya dari CS nya pun menyampaikan sms serupa. Dan kubalas, thanks a lot.

Akhirnya kuulangi mengirim pulsa ke kakkaku. Setelah mendapat konfirmasi transaksi berhasil, ku-sms mbakku itu dan menanyakan apa pulsanya sudah bertambah atau belum.

dia menjawab singkat, “Sudah de, lama banget nymapenya… berarti harus menunggu 24 jam untuk bayarnya ya”.

Su*k of it!!!!!!!

Promosi

So, disini saya menawarkan produk usaha, peluang, dan gaya hidup. Jadi, bilapun anda tidak ingin memutuskan untuk menjual pulsa ke orang lain, toh anda tetap membutuhkan pulsa tiap bulannya. Disini anda memiliki peluang untuk memaksimalkan penghasilan dengan cara mengajak orang lain bergabung. Beberapa bank melalui atm atau sms banking telah melayani jsa pengisian pulsa, tapi tidak menawarkan peluang usaha atau memperbesar keuntungan bagi anda. Jadi semua ini biarlah kita lakukan tanpa ada paksaan di dalamnya. List harganya bisa dilihat disini, saya sudah ketikkan dengan rapi, hehehehehehehehhe…. Selamat berusaha.

UpDate

Hari ini tanggal 29 Mei, tepat 27 hari sejak kumulai usaha ini. tercatat di situsnya aku telah melakukan total 1 juta rupiah lebih transaksi. Dan kubandingkan dengan catatan dan neraca yang kubuat di MS excel, ternyata sudah mencapai nilai BEP. Lumayan juga untungnya yah, ini baru satu tipe penghasilan saja (jualan eceran ke kerabat dekat), belum lagi bila aku mulai mengaktifkan sistem binary -nya (mirip MLM gitu), maka kemungkinan untuk untung lebih banyak lagi terbuka luas dong. Oke deh segitu dulu saja, mau siap-siap dikejar duit dulu neh. Good Luck.

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

Bisnis adalah Solusi

•May 5, 2009 • Leave a Comment

Bukan berarti hanya karena bisnis tidak memberikanmu hasil sesuai yang diharapkan berarti bisnis adalah buruk. Tidak, itu hanya stigma atau labelisasi negatif yang diberikan mereka yang memutuskan menyerah di kesempatan kesekian kalinya untuk maju. Padahal satu atau dua kesempatan lagi merupakan jalan untuknya bagi berhasil.

Motivasi dan Realita Bisnis

Banyak orang yang memiliki cerita gagal dalam berbisnis. Namun ada banyak juga orang yang berhasil dalam bisnis. Mengapa kita terlalu pesimis untuk mau maju, pamanku berkata “bisnis itu Cuma dua kalau tidak untung ya rugi”. Peluangnya secara random pun 50%, jadi mengapa kita takut untuk gagal? Mengapa kita tidak berani untuk untung saja? Bahkan, dengan pengalaman, kemampuan, dan sedikit intuisi peluang keuntungan bisa kita naikkan hingga beberapa point di atas angka 50% tadi.

Motivasi yang paling kupegang adalah bila Thomas Alva Edison memutuskan untuk berhenti mencoba dikesempatan yang ke-1000 kali maka mungkin hingga saat ini kita masih dirundung kegelapan. Jawabnya enteng, aku telah tahu dan mencatat pasti 1000 jalan menuju kegagalan, maka yang ada di depanku hanyalah keberhasilan saja. Benar saja, lampu pijar yang ditemukannya pada eksperimen yang ke-1001 telah mendorong semua umat untuk bergerak menuju cahaya dan menjadi enlighted. Tidak saja secara fisik, juga secara rasionalitas.

Berkaca dari kesuksesanku meraup untung di bisnis sebelumnya lewat ATM BNI, aku mulai merambah daerah baru. Diversifikasi adalah media untuk memaksimalkan penghasilan kecil namun berlipat-lipat. Hal ini dikarenakan belum mungkin bagiku untuk fokus pada bisnis, basic knowledge di bidang medis soalnya. Jadi waktu luangku di luar medis bisa kumaksimalkan tidak hanya satu, tapi ke beberapa sumber penghasilan sekaligus. Dont put all your egg in a one basket. Setidaknya aku masih punya plan B untuk semua rencana hidupku.

Idealisme vs Kenyataan = Solusi

Idealismeku sejak di bangku kuliah dulu, sebisa mungkin tidak menyusahkan orang yang sudah kesusahan. Menarik bayaran dari orang yang sakit (fee for service) membuat tanpa sadar dokter “berharap” pasiennya datang banyak. Masih terngiang kata mantan wadekku dulu, semoga Tuhan mengampuni dosa kalian semua. Untuk itu, aku selalu berpegang untuk tidak berdooa yang macam-macam. Siapa yang kutolong memang hanyalah mereka yang butuh pertolongan saja, jadi ibadahnya lebih terasa bukan. Lagipula, aku tidak saja hanya bekerja di tempat yang menerapkan sistem fee for service, tapi juga ada sistem lainnya seperti fixed salary, dan kapitasi.

Bekerja di bidang medis seharusnya tidak membuat seseorang menjadi kaya, kalau asal berkecukupan sih masih mungkin. Bukankah kata cukup sangat personal dan tergantung pada derajat keserakahan seseorang. Intinya aku juga pingin kaya, tapi sebisa mungkin tidak dari bidang ini. Akhirnya kuputuskan untuk memulai side job lewat bisnis. Lagipula nanti saat aku berencana meneruskan jenjang pendidikan profesiku, aku tidak perlu khawatir aku tidak berpenghasilan selama itu.

Bisnis terakhir yang kucoba tekuni mulai dari ATM, freelance editing image untuk webpage, sampai bisnis pulsa. Yang masih dalam perkembangan (close observed) adalah internet marketing dan beberapa produk investasi maupun asuransi di dunia nyata. Tentu saja praktek medis jalan terus sementara itu. Kedepannya kelak aku berencana mengembangkan jaringan praktek medis maupun bisnisku. Jadi sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saatnya Promosi

Sebagai penutup tulisan ini, aku ingin mengajak teman-teman pembaca semua untuk mempelajari bisnis terakhirku. Link webpage bisnisku tersebut bisa dilihat disini. Segera akan saya ceritakan perkembangan bisnis tersebut. Setidaknya baru 2 hari menjalaninya, masih perlu waktu untuk menilainya. Sementara itu, promosi saja terus. Karena sukses adalah pilihan.

Technorati : , , , , ,
Del.icio.us : , , , , ,
Zooomr : , , , , ,
Flickr : , , , , ,

Hasil Kerja Keras Selalu Bermuah Manis (Memaksimalkan Waktu Luangku, Bisnis ATM BNI Kujalani Part II)

•May 5, 2009 • 2 Comments

Lama tak berkabar dalam media blog, kali ini aku akan menceritakan sedikit buah manis yang kupetik dari hasil kerja kerasku terdahulu. Belakangan ini aku sedikit sibuk menikmati buah manis tersebut, disamping tentunya kesibukan-kesibukan lainnya yang harfiah.

Buah manis itu bernama SE K660i.

Buah manis itu adalah hasil kerja keras dan ketekunanku menjalani bisnis ATM BNI ku terdahulu. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini. Dengan tambahan kumpulan uang sakuku terdahulu, dan honor praktekku di beberapa klinik maka menjelmalah menjadi sebuah HP HSDPA SE 660i.

Perang tarif dan promo operator GSM cukup menjanjikan untuk biaya operasional kebutuhan internetku. Intinya, aku butuh sebuah modem internet. Selain itu, mengingat harganya yang kompetitif (modem berbasis GSM/CDMA) maka lebih ekonomis bila aku membeli Hp saja. Jadi bila modem sudah tak kubutuhkan lagi di kemuidan hari, aku masih memilikinya dalam bentuk sebuah Hp.

Kembali ke SE 660i, Hp ini sudah lama kuincar. Bukan untuk kugunakan sebagai Hp pada umumnya (fasilitas telepon dan sms) namun terlebih akan kugunakan sebagai modem komputer agar aku bisa leluasa menjelajah dunia maya. Penjelajahan yang kerencanakan untuk menambah potensi pasive income ku di bidang lain. Jadi dari keuntungan melahirkan keuntungan baru, begitulah prinsipku.

Sebenarnya Hp ini bukanlah yang kuincar mengingat value by price-nya. Dari semua merek Hp yang menyokong fungsi sebagai modem HSDPA dari value on price-nya dimenangkan oleh Hp merek SE (Sonny Ericsson). Merek ini mengusung harga termurah untuk Hp yang telah dilengkapi teknologi HSDPA (3.5G) dibanding merek pesaingnya.

Selama 3-4 bulan kulakukan watchfull waiting, lewat internet, tabloid ponsel, pengalaman-pengalaman pribadi pengguna, hingga berbagai forum di situs sosiolita. Akhirnya kutetapkan targetku, antara SE K630 vs G502, meski aku jauh lebih condong ke K630. Dibandingkan dengan harga modem GSM, dia maksimal 400 ribu lebih mahal. Kompensasinya aku akan memiliki sebuah Hp selain modem tersebut. Hal yang tak kudapatkan jika aku membeli sebuah modem standar.

Sayangnya, saat detik-detik terakhir uangku terkumpul tragedi yang menyedihkan terjadi. Walaupun aku sudah berjalan (dalam arti sebenarnya) menyusuri separuh jalan teuku umar dan bertanya pada setiap (juga dalam arti sebenarnya) konter dan toko handphone, tapi tetap saja jawaban mereka sama, stok untuk K630 kosong. Beberapa tempat malah berspekulasi bahwa pihak SE tidak berniat melanjutkan pengembangan produk K630.

Wah, gila juga neh SE. Ada duit tapi ga ada barangnya. Terpaksa plan B dijalankan. Pilihan tinggal pada G502 vs K660i. Meskipun beda harga yang signifikan, namun G502 memiliki kelemahan yang signifikan. Tidak disertakannya cd software, kabel data merupakan alasan utama untuk menomorduakan produk ini. Tambahan, pada K660i selain dilengkapi kedua elemen tadi juga dilengkapi camera untuk video call. Ada uang ada barang memang.

Setelah menunggu lagi selama sebulan untuk memastikan tidak adanya lagi produk K630 yang keluar, maka pilihan final dijatuhkan pada K660i. Akhirnya impianku kesampaian. Jadi jerih payahku dan kesabaranku terbayar lunas. Aku bisa ngenet dari rumah sekarang.

Pengalaman dengan operator seluler

Dari awal aku memang mengincar produk indosat yang menerapkan durasi 250 menit untuk masa aktif 5 hari sebesar 5 ribu rupiah (konter pulsa 6 ribu rupiah). Jadi biaya yang dikeluarkan perjamnya hanya seribu sekian. Yah lumayanlah untuk diriku yang ternyata tidak cocok untuk menerapkan volume based, karena diriku yang boros bandwidth. Pernah ngenet selama satu setengah jam aku menghabiskan 300an MB. Jauh lebih hemat bila dibandingkan ke warnet ataupun sistem pembayaran paket volume based.

Awalnya aku membeli perdana IM3 5 ribu seharga 5 ribu rupiah plus paket GPRS 5 ribu seharga 6 ribu. Besar dong harapan akan segera berinternet ria dari rumah. Sampai di rumah kucoba untuk setting gprs nya tapi kok ga mau. Padahal im3 yang dulu ga perlu disetting udah otomatis hidupnya. Aduh, ngebetnya ditunda negh, usaha pertama GATOT.

Ku sms vera temanku, karena pacarnya sekarang bekerja di Indosat. Dia membalas, bawa aja ke galeri Indosat ntar di settingin disana deh. Wah, berati menunggu minggu depan dunk, karena ini akhir minggu. Jadilah aku mutung di weekend yang indah itu (lebay mode = on).

Singkat cerita sepulang kerja mampirlah aku di galeri indosat. Setelah konsultasi, CS nya mengatakan untuk bisa menggunakan paketnya saldo minimal haruslah sebesar 500 rupiah. Bleh, kan pas beli perdana udah 5 ribu, dan pulsanya ga pernah diapa-apain.

Ternyata ada beda antara pulsa perdana, pulsa reguler (pokok), pulsa paket, dan bonus pulsa. Wew, IM3 emang raja bingungin. Solusinya dia mendaftarkan simcard ku (dilepas dulu dan dimasukin ke suatu alat untuk aktivasi) dan menganjurkankan untuk beli pulsa reguler dulu yang paling kecil (nominal 5 ribu rupiah). CS pun memberikan selembar kertas yang baru saja di print nya berisi panduan manual untuk setting modem di rumah via durasi ataupun volume based.

Kuturuti sarannya. Akhirnya penantianku selama ini terbayar sudah. Aku bisa berinternet ria dari rumah. Bahkan sempat kutulis di wall facebook ku segala. Aksesnya pun lumayan 460kbps. Not bad dan berlanjut hingga keesokan harinya. Problemnya paling hanya sinyal HSDPA (meski di software bawaan SE hanya menjangkau sinyal 3G/UMTS) yang sering hilang timbul di kamarku.

Hari kedua masalah mulai timbul. Kecepatan akses turun jadi 115 kbps, malahan pernah di siang hari yang terik kecepatannya hanya 57 kbps. Tambahan, aku bisa browsing hanya dari jam setengah 7 pagi samapi maksimal setengah sembilan pagi. Sisanya, buka satu page pun ga kuat. Yang ada malah makan durasi aja. Anjrit (maap), apa-apaan ini.

Hingga akhirnya sempat aku ke galeri indosat, kali ini CS yang manis mengatakan kalo ada pembatasan untuk layanan GSM hanya sampai maksimal 120 kbps. Itupun hanya bisa kunikmati saat jam tak sibuk (7 pagi sampai setengah sembilan pagi). Masih dari CS, bahkan CDMA pun masih lebih ngebut, kubenarkan jawabannya karena temanku yang menggunakan starone bisa kena 460 kbps. Jadi merasa ditipu negh, tau gini mending beli Hp CDMA aja dong. Ckckckckckcckckck…..

Agaknya ini trik pasar Indosat agar jualan IM2 broom nya laku. Tapi masalahnya, walaupun harganya kompetitif, tapi layanannya hancur. Salah satu kolegaku mengatakan 3 hari dia ga bisa OL. Wah, ini sih gencar mencari pelanggan baru dan menelantarkan kawan lama. Pasar pun kini ramai-ramai beralih ke telkom flash karena dia mau “membatasi” membernya. Meskipun dulu, dia sama busuknya dengan IM2 broom sekarang. Mungkin kini aku menunggu gerakan teman-temanku yang lagi mengumpulkan 10 orang dan berencana mengajukan telkom flash untuk corporate. Ditunggu bro….

Technorati : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Zooomr : , , ,
Flickr : , , ,

Iklan Politik (jilid 2)

•April 4, 2009 • 3 Comments

Sebenarnya males juga ngomongin masalah ini lagi. Takutnya penulis blog ini dianggap pembenci salah satu partai politik di Indonesia. Tapi ya, masalahnya blunder yang mereka lakukan kali ini sangat keterlaluan, malahan jika dikritisi maka blunder ini jelas menohok posisinya.

Adalah iklan partai politik PDI-P terbaru setelah iklan terakhirnya yang kebetulan menyandang prdikat tergoblok dari saya. Iklan kali ini mengikuti gaya kampanye dan narasi layaknya partai Gerindra. Persoalan yang diangkat adalah seputar BLT. Jika saja Gerindra konsisten dengan sikapnya untuk menolak BLT dengan memberikan perbandingan BLT yang digelontorkan dengan apa-apa saja yang seharusnya bisa didapat bangsa ini, untuk iklan PDI-P justru saya anggap sebagai blunder besar.

Blunder yang saya maksud adalah melunaknya sikap PDI-P yang mengklaim dirinya sebagai partai oposisi untuk menolak “segala” kebijakan yang dibuat partai yang berkuasa. Termasuk soal BLT yang dari dulu (penyaluran BLT tahap I) selalu dicerca dan dianggap mendidik mental bangsa sebagai pengemis.

Saya pun sebagai warga negara memiliki sikap untuk kasus BLT ini. Saya meyakini bahwa memberi kail jauh lebih visioner daripada memberi ikan. Bila ikan diberikan sementara untuk modal memancing ikan berikutnya mungkin niatnya terasa baik. Mudah-mudahan tidak banyak orang yang malah justru menjadi malas karena setelah diberi ikan.

Sayangnya PDI-P dalam iklan terbarunya malah mencerminkan inkonsistensi. Yang dari dahulu menolak, menghina, bahkan menggelontorkan wacana BLT sebagai money politic dari partai incumbent malah sekarang mendukung BLT. Dalam bahasa yang dititipi dan menyatakan sebagai “mengawasi penyaluran hingga diterima yang berhak”.

Eih, apa-apaan itu. Mengapa pengawasan itu tidak dikerjakan dari dua tahap BLT sebelumnya saja? Justru PDI-P sekarang malah mendompleng program yang katanya “money politic pemerintah”. Bahkan, putri kesayangan Sang Ketua umum pun turun langsung ke kantor pos di jakarta untuk memantau pelaksanaannya sembari memberi segelas air mineral untuk pengantri BLT. Salah satu stasiun TV malah mengatakan ada stiker kecil PDI-P di setiap gelas air mineral, meski reporter stasiun TV tersebut tidak menyorot stiker tersebut.

Apa karena sang putri maju menjadi caleg saat ini. Gambar-gambarnya dari tiga generasi (caleg-ibunya-kakeknya) menghiasi jalan jogja-klaten. Sehingga ini merupakan kampanye terselubung. Yang saya permasalahkan hanyalah konsistensinya saja.

Buat Jurnalis: Hati-hati deh lain kali

•March 23, 2009 • Leave a Comment

Ada yang tersisa dari fakta sakitnya Presiden SBY saat melakukan kunjungan kerjanya ke pabrik semen Tonasa Sulawesi awal bulan silam. Entah ada unsur kesengajaan atau ketidaksengajaan di dalamnya, namun ketika berita ini di-blow up wartawan sanggup mengalihkan perhatian publik dari pertemuan politik Kalla-Megawati yang membahas koalisi Golkar dan PDI-P kedepannya. Rakyat tentu lebih concern memperhatikan pemimpin bangsanya daripada pertemuan ajang memupuk kekuasaan lewat koalisi yang berubah-ubah, karena dalam politik yang abadi hanyalah kepentingan. Bukan tidak mungkin publik melihat sosok yang teraniaya kembali dalam diri SBY yang ditinggalkan oleh Kalla wakilnya. Namun sekali lagi aku tidak ingin berspekulasi apakah sakitnya Presiden ada kaitannya dengan ranah politik. Toh, sudah ada dokter ahli kepresidenan yang menanganinya.

Sudah kewajibannya pers akan memburu hot news ini hingga menjadi top rank di setiap stasiun televisi. Berbagai investigasi dibuat lewat acara-acaranya, menyatakan presiden keracunan lah, mendapat serangan stroke lah, dsb. Pembawa acara berlaku bak dokter yang melakukan hetero-anamnesis (wawancara medis terhadap orang lain yang berhubungan dekat dengan pasien). Jawaban sempurna saya dapat dari juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng bahwa kondisi presiden stabil dan telah ditangani oleh ahlinya dan tidak ingin berspekulasi terhadap penyebabnya ataupun segala yang berkaitan medis karena bukan porsinya. Sempurna…..saya salut karena ada juga orang yang tidak mau berkomentar terhadap sesuatu yang di luar bidangnya. Malahan jika dia berkomentar maka akan menyeret topik yang dibicarakannya ke ranah politik dan ketatanegaraan karena kapasitasnya sebagai wakil pemerintah. Great job Andi.

Akhirnya setelah kembali ke Jakarta dalam kondisi yang stabil, Presiden menggelar jumpa pers. Layaknya orang yang bercerita kepada keluarganya beliau menceritakan SETIAP detail kejadian dari Sulawesi hingga tiba di Jakarta. Tujuannya jelas, memutus berbagai polemik yang beredar di masyarakat yang menyebabkan keresahan mayoritas penduduk Indonesia. Good news of course.

Namun di tengah-tengah konfrensi presiden menyinggung kinerja insan pers yang bertindak sewenang-wenang. Adalah metro-TV yang dituding tidak profesional dalam menjalankan kinerjanya ketika meliput check up medis Presiden di Jakarta di salah satu RS.

Presiden dibawa ke ruang ICU (Intensive Care Unit), Presiden dibopong oleh tim dokter, dan satu lagi saya lupa (kalau tidak salah ingat mengabarkan tentang kondisi kritisnya presiden) merupakan point-point pemberitaan Metro-TV yang digarisbawahi oleh Presiden. Beliau menjawab bahwa kondisinya stabil dan atas saran dokter kepresidenan dianjurkan untuk melakukan regular check up untuk memastikan kondisinya fit. Presiden tidak dibawa ke ruang ICU ataupun dibopong, melainkan berjalan sendiri.

Presiden mengatakan kalau hubungannya selama ini dengan pemimpin metro-TV (surya Paloh-Golkar) adalah berlangsung dengan baik, begitupun hubungan dengan stasiun tersebut. Presiden secara tersirat meminta pertanggungjawaban yang seimbang. Bila berbuat benar diberikan prestasi maka berbuat kesalahan perlu ada ganjarannya dong mungkin itu bahasa lugasnya.

Sekali lagi, awak pers berlaku semena-mena demi keuntungan rating tayangan mereka yang meningkat, yang artinya makin besarnya pemasukan lewat iklan yang diperoleh. Jika kemarin kebanyakan yang bermasalah dengan insan pers adalah artis, lewat tayangan infotainment. Bahkan salah satu artis (sepertinya Agnes Monica) berencana untuk mengadukan langsung nasibnya yang diperlakukan semena-mena oleh wartawan infotainment kepada presiden pada peringatan hari pers nasional. Eh malahan tidak berapa lama kemudian presiden sendiri yang menjadi korbannya. Salah pilih korban nih kali ini…